Jumat, 28 November 2008
Jumat, 21 November 2008
Masih Merah di Ufuk Barat - Dimanapun kesadaran
Segera sadari diri. Dimana pun kita berada dan kapan saja waktunya, diri harus “mawas”, mawas diri. Meng adulah kepada hanya Allah; jangan kepada yang lain. Minta tolong lah kepada Allah. Jangan kepada yang lain. Murnikan ibadah [98:5]. Jangan sampai hilang kesadaran. Sadari sesadar-sadarnya bahwa lawan diri adalah setan. Diri selalu sadar, setan lari terbirit-birit. Yang diredai Allah yang dilakukan. Setan pasti benci. Ia terus maju. Jangan beri setan masuk. Sesungguhnya daya setan itu hanyalah terhadap orang-orang yang mau menjadi pengikutnya dan orang – orang yang mempersekutukannya (setan) dengan Allah [16:100]. Yang tak diredai-Nya dilakukan, berarti diri telah menghilangkan kesadaran. Jangan hilangkan kesadaran Atau kalau sedang kehilangan kesadaran, istighfar. Mohon ampunan Allah. Sesungguhnya setan tak ada daya nya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah [ 16:99 ]. Sekali lagi semua bi idznillah. Dengan izin Allah. Ketaqwaan kepada Nya lah sebagai filternya. Tingkatkan keimanan. Ini penting disadari. Warabithu.
Masih Merah di Ufuk Barat - Pembelintang setan
Pekerjaan setan itu membelintangkan dirinya dijalan ke benaran. Ia selalu mencari teman untuk kenaraka. Mawas dirilah. Setan selalu memperdaya manusia sesuai sumpahnya :“la aq ’uda nna lahum” aku benar-benar akan menghalangi manusia” shiraa thaka lmustaqiim dari jalan yang telah Engkau gariskan untuk ke selamatan di dunia dan akhirat [7 A’raaf 16]. Pembelintangan setan ini dari 4 arah. Depan, belakang, kanan dan kiri :Tsumma kemudian, la aa tiyannahum aku mesti memperdayakan mereka min baini aidiihim dari muka wa min khalfihim dan dari belakang wa ‘an aimaa nihim dan dari kanan wa ‘an syamaaa ilihim dan dari kiri [7:17]
Jelas sekali kesombongan setan itu, kepongahannya. Ini karena syetan sudah dikutuk dan dihina Allah. “Innaka mina shshaa ghiriin kamu sungguh-sungguh makhluk terhina [7:13]”. Karena nya, setan diakhir sumpah nya meminta Allah kelak menyaksikan : wa laa tajidu aktsara hum syaakiriyn dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan manusia bersyukur.” Tak banyak manusia yang bersyukur dan beriman kepada Allah, kata Setan.
Setan sombong. Kesombongan itu diiingatkan Allah kepada manusia agar tidak dilaksanakan manusia dalam hidup: “Walaa tamsyi fil ardhi dan jangan kamu berjalan dimuka bumi maraha sombong [17:37].
In reality, setan benar-benar mpunyai kepiawaian yang amat tinggi dalam segala daya upayanya membelokkan diri manusia mengikuti bujuk rayuannya. Ia punya kelihaian tersendiri dalam menggoda. Ia paling sabar. Perhatikan 7:17! Bila tak dapat menggoda manusia dari muka, dari belakang. Tak dapat dari belakang dari kiri. Tidak dapat dari kiri, ya dari kanan. Setan membisikkan agar manusia berbuat kejahatan selalu [114 An Naas 4] dan bisikan bisikan setan itu kedalam hati, alladzii yuwa swi su fii shuduu rinnaas [114:5]. Setan mau bertolak berangsur dengan manusia untuk melakukan kejahatan. “Ya, kalau tidak sekarang, besok boleh”. “Besoklah kau lakukan”. Pokoknya : “la aa tiyannahum, aku mesti memperdayakan kamu kamu”. Sayang suara setan tak terdengar oleh kita, manusia. Tapi ini penting sekali bagi yang berpikir. “OK,ya? Ya,buatlah dulu planning”. “Matangkan”. “Lakukanlah persiapan”. “Siapkan perkakasnya”. “Asahlah dulu pisau kau tajam-tajam”. “Ooo,Cari teman?” “Bagus, bagus”. “Ya itu yang paling bagus, ok”?. “Ya, mau kau lakukan bersama - sama?” Baguus pula. “Lakukaan!” “Lakukanlah!” “Lakukanlaaah!”. “Bagus, bukan?” “Ba guus, bagus”. “Itu baru bagus”. “Baru bagus benar kau namanya”. “Horeeee”, setan bersorak sorei. “Horeee”. Namun diri pelaku? Terengah! Akhirnya, terperengah! “Wah, wah, wah! Nyesal aku!” Jangankan di akhirat, diawal-awal pun sudah ditunggu oleh pertanggung jawaban. Setelah delik, si pelaku dijadikan saksi. Akhirnya jatuh sebagai tersangka. Last but not least, ia di vonis ke kandang situmbin. “Horeeeeee”, si setan tambah bertepuk gembira tertawa terbahak–bahak. “Rasain oleh lu!” “Luu yang pandir”. “Pandiir”. “0ngok benaaran lu kiranya, yeaa”. “Itu lah luu”. “Ongok boaaanget”. “Beneer yea. Gua yang licik, niyee!”. Itulah, lu ndak nyadarkan diri. Kini kau kanti setan ke neraka. Innamaa yad ‘uu hizbahuu sesungguhnya setan mengajak [jadi] golongannya liyakuu nuu min ash - haabi ssa‘iyr supaya mereka menjadi penghuni naraka [35 Faathir 6].
So, janganlah turut rayuan setan. Ia musuh bebuyutan yang nyata. Camkan benar. Apalagi bersahabat dengan setan. Menjadikan setan sebagai tangan kanannya. Allah marah sekali. Wa man yyakuni sysyaithaanu lahu qariynaan fasaaa a qariynaa dan siapa ada setan menjadi kawannya maka sejahat-jahat kawanlah in fact the one who chooses Shaitaan as his companion has chosen a very evil companion! [4:38] Sadarkan diri selalu untuk terhindar apalagi menjadikan setan kawan!
Istahwadza ‘alaihimu telah berkuasa terhadap mereka sysyaithaanu setan, karena ternyata mereka mentaati setan fa ansaahum dzikra llaahi telah menjadikan mereka lupa mengingat Allah ulaaa ika hizbu sysyai thaan mereka itulah golongan setan [58:19].
Banyak khuthuwaati sysyaithaan kepoh setan untuk menggoda manusia. Jelas, setan punya SIM. Surat Izin Memenjarakan manusia. Ya, melalui empat pintu masuk. Ia punya embus-embus. Punya elus-elus; rayuan. Berlindunglah hanya kepada Allah dengan sepenuh hati. A’udzubillahi ssamii ’il ‘aliymi aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui mina sysyaithaani rrajiima dari godaan syetan yang terkutuk min yaitu dari hamzihi umpatannya wa nafkhihi dari hembusannya wa naftsihi dan dari rayuannya. Setan sabar. Kita harus selalu sadar. Setan saja sabar menanti. Yang penting baginya hasil usahanya dapat memuaskannya. Bandingkan dengan manusia. Kok manusia tidak sabar. Setan punya. Sabar menanti dan memang sabar. Manusia punya Sabar Menanti tapi tak sabar di penantian. Yang paling payah menanti “Waiting is boring”. Tapi kesabaran setan memang beda dengan manusia; berbeda tujuan.
Sama menanti tapi beda tujuan. Inilah yang “sama tapi beda”. Kesabaran setan membawa manusia sebagai kanti untuk dibawa masuk neraka. Hanya manusia tidak menyadari. Sekali lagi, camkan, hanya manusia tidak menyadari. Tidak sadar laa yas’uruun [2:12]. Sedang kesabaran manusia diperlukan masing-masing diri dalam persiapan untuk mempertanggung jawabkan hasil kepatuhan dengan penuh kegembiraan. Bersyukur lah diri dapat menganut Islam. Berterima kasihlah pada orang tua. Kita bukan menganut agama lain. Karena nya, tingkatkan diri. Anut Islam dengan kaaaffah. Udkhuluu fissilmi kaaaffah, masuk Islam lah secara “kaaaffah”. Menyeluruh. Pakailah Islam yang kaffah sebagai Jubah dalam hayat sebelum ajal. Karena, se sungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam inna ddiina ‘indallaahi l islaam [3:19]. Siapa mencari agama selain Islam (untuk dianutnya) maka tidaklah akan diterima(Allah) waman yyabtaghi ghayral islaami diynaan falan yyuqbala minhu dan ia diakhirat masuk golongan orang yang merugi wahuwa fil aakhirati mina lkhaasiriyn [3:85]. Patuhi semua perintah Allah. Jauhi segala larangan Nya. Wadzkurisma rabbika sebutlah nama Tuhanmu wa tabattal ilaihi tabtiylaa Dan beribadatlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Rabbu lmasyriqi (Dia lah) Rab Yang (menguasai) Timur wal maghribi dan Barat. Laaa ilaaha illaa huwa Tidak ada Tuhan selain Dia. Fa ttakhidz hu wakiylaa [ 73:8-9]. Bebaskan diri dari setan. Perkuatlah kesabaran diri. Tingkatkan dan waspadai. Waspadalah terhadap bujuk rayuan setan. Yaaa ayyuhaa lladziina aamanuu hai orang-orang yang beriman, shbiruu bersabarlah kamu - dalam melakukan taat patuh dan menghadapi musibah serta menghindari maksiat. Bukan sabar untuk siap melakukan maksiat - wa shaabiruu dan tingkatkanlah kesabaranmu, wa raabithuu dan tetaplah waspada serta siap siaga, wa ttaquu llaaha serta bertaqwalah kepada Allah, dalam setiap keadaan, la ‘allakum tuflihuun supaya kamu beruntung [3:200] – dalam mempersiapkan diri supaya terhindar dari menemani setan-setan ke neraka.
So: Tekurkanlah kepala. Tanyailah diri. Sejauh mana diri sendiri dapat bersabar dalam mematuhi ketentuan yang digariskan Allah. Setebal apa keiman diri hai diri, dalam membenarkan dan mengaplikasikan firman Allah bagi hidup dan kehidupan harian, dalam menju bahkan Islam pada diri. Selalu terucap : Maha benar Allah dengan segala firman Nya. Itu dikeraskan ucapannya. Bersama. Tetapi, aplikasinya ? Lihatlah kedepan, menolehlah kekiri, begitu pula kebelakang. Akhirnya kekanan . Betapa besarnya faktualita hasil penggodaan setan. Hasil pembelintangan kesetanan dalam kehidupan; dengan romantika pencumbu rayuan sisetan jahannam yang telah membawa banyak diri ke lembah kehinaan, tiada tara. Bermacam irama kelicikan yang dilakukannya. Mengakibatkan hilang kesadaran. Renungkan !!!.
Selalulah mawas diri. Perhatikanlah trik khuthuwaati syssyaithan menggoda manusia. Contoh yang simple:
- syirik sangat diusahakannya, agar manusia berusa ha menyekutukan Allah dengan lainnya. Ia meng akui Allah Esa. Namun untuk kantinya ke naraka, ia menyuruh manusia meminta kekubur, meminta kedukun dan meminta kepada yang lain- lainnya. Bukan kepada Allah. Dibuatnya diri membangkang kepada Allah dengan elusan kelicikannya
- sombong dan kepongahan diri dibangkitkannya.. Perhatikan: Wa idzaa qiyla lahuu dan jika dikata kan kepadanya ttaqi llaah takutlah kepada Allah, akhadzat hul ‘izzatu bangkit sombongnya – meng akibatkan ia berbuat bil itsmi, dosa [2:206]. Itu sebabnya Allah mengingatkan : jaaangan sombong!
- bumbu tambahan berbuat sesuatu diluar yang difirmankan Allah; disuruhnya diri; bukan berbuat seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Akhirnya jalan-jalan kepatuhan melenceng sesuai dengan hasil bujuk rayuan imbauannya. Jadinya: diri telah berbuat bil itsmi. Padahannya jelas ada! Lihat penutup 2:206: fa hasbuhuu jahannam wa labi’ salmihaad maka cukuplah jahannam untuknya dan sesungguhnya itu seburuk-buruk tempat. Jahannam jelas tempat setan. Perioritas setan mencari manusia untuk disetankannya. Di jahannam kan. Yang taat patuh kepada Allah, dapat terhindar dari sana.
- malas pada diri untuk tahu, untuk belajar, untuk menelaah ditimbulkannya. Diri jadi ummi yyun buta huruf, laa ya’ lamuu na lkitaaba tidak mengetahui Kitab, tak mengetahui petunjuk, tak mengetahui tuntunan, tak berilmu, illaa kecuali, a maa niyya cerita cerita dongeng wa in hum dan mereka, illaa kecuali, yazhunnuun hanya mendu ga-duga saja [2:78]. Disini setan mudah merayap, karena diri blank. “Ini yang bagus”. “Itu kan jelek bagimu”,bisik setan. Gaya ini dibuat setan juga saat diri akan menghambakan diri, berdialog dengan Allah. Shalat! Pada waktu akan shalat; bisikannya: “Tunggu dulu. Koa lu! Kan masih ada waktu”. Wa idzaa qaa muuu ila shshalaa ti dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan salat, qaa muu kusaa laa mereka berdiri dengan malas [4 An Nisaa’ 142]. Setan menggantungi paha, ha, ha, ha ha. Sadarlah! Segera istighfar. Wa qul dan katakanlah : Rabbi Ya Rabbku a ‘uu dzubika min hamazaatisy syayaathiin Aku berlindung kepada Mu dari bisik an bisikan setan[23:97]. Wa a‘uu dzubika rabbi an yyakhdhuruun Dan aku berlindung kepada Mu agar setan tak sampai kepadaku membawa (tipu dayanya) [ 23:98].
Trik-trik setan dengan segala kepiawaian dan kesabaran nya itu banyak sekali. Kalakian, dalam realita harian terlihat sesuatu yang buruk. Penggunaan tepung tawar, jampi-jampi dapat terjadi. Jadi permainan. Kok ya bisa begiitu? Ini fakta. OK. Mari disigi firman Nya: “ 2:102. Wattaba ‘u dan mereka mengikuti, maa tatlu sysyayathiinu apa yang dibaca setan ‘alaa pada (masa), mulki sulaimaana kerajaan Sulaiman – berupa buku-buku sihir yang mereka pendam dibawah singga sana ketika kerajaan Sulaiman rubuh - wa maa hum tiadalah mereka (ahli sihir itu) bidhaaarriyna bihii dapat memberi kemelaratan dengan nya ( ilmu sihir ) min dari ahadiin pada seorang juapun illaa kecuali, bi idznillaahi dengan izin Allah ”. Yang baik dan yang buruk baru bisa terjadi bi idznillaah. Semua dengan izin Allah. Kalau Allah tak mengizinkan, jampi - jampi takkan mangkus. Begitu juga hasil embus-embusnya takkan sangkil mangkus. Ayat Ini Perlu di Sadari ! Camkan wamaa hum bidharriyna bihimin ahaadin untuk tegak tegar dan kekar dalam penyerahan diri kepada Allah. Allah Maha Menjaga. Allah mengetahui yang dihadapan dan dibelakang kita. Semuanya kembali kepada Allah. Sebab kehidupan jelas ada akhirnya. Kematian. Dibalik kematian kembali kehidupan. Kehidupan baru tiada akhirnya lagi. Kehidupan sebagai penjawaban dari hasil pekerjaan kehidupan di dunia.
Setelah tahu kepoh-kepoh setan terhadap diri, tentu dalam hidup, diri harus punya perhitungan. Perhitungan matang amat penting sekali dikaji ulang untuk hidup.
Kamis, 20 November 2008
Masih Merah di Ufuk Barat - Berahasia berbuat dosa
Allah yang mengatur tatanan kehidupan dan makhluk lainnya. Sampai pembicaraan yang tak diketahui, rahasia untuk berbuat dosa, dilarang Nya. Idzaa tanaa jaitum bila kamu mengadakan rahasia falaa maka jangan tatanaa jaw bil itsmi membicarakan tentang berbuat dosa wal ‘udwaani permusuhan wa ma’shiyat dan durhaka [58 Mujaadalah 9]. Innamaa nnajwaa sesungguhnya pembicaraan secara rahasia itu minasy syaithaani dari setan liyahzuna lladziina aa manuu walaisa untuk menjadikan orang-orang mukmin berduka cita dan tiadalah pembicaraan itu bidhaaarrii him syaian dapat memberikan mudarat kepada mereka sedikit pun, illaa kecuali bi idzni llaahi dengan izin Allah [ 58:10 ]. So, hati-hati dengan pembicaraan rahasia yang menjerumuskan diri kedalam dosa; mem buat orang lain jadi duka lara.
Masih Merah di Ufuk Barat - Uji Kepatuhan
Dengan kematian, Allah dapat melihat hasil uji kepa tuhan manusia. Inna ssam ‘a wal bashara wal fu aa da sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, kullu ulaaa ika kaa na ‘anhu mas uw laa semuanya akan dimintai pertanggungan jawaban[ 17 Al Isra’ 36].
So, amat sangat perlu sekali kepatuhan kepada Nya. Kepatuhan bukan disesuaikan dengan ketentuan mau pun kemauan diri sendiri. Ataupun kemauan party. Tetapi kepatuhan yang sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Gunanya kematian itu untuk mengetahui siapa yang lebih baik, lebih patuh dalam melakukan amal di dunia kepada Allah. Dibalik kematian sudah menanti tugas untuk memberikan pertanggungan jawab hasil kepatuh an yang dilakukan diri selama didunia fana
Masih Merah di Ufuk Barat - 1, Tak 1 pun Setara
Kalau begitu, A ilaahun Apakah ada tuhan, mma‘a llaah? di samping Allah? [27:60] A ilaahun mma’a llaahi [-:61] A ilaahun mma’a llaahi [-:62] A ilaahun mma’a llaahi [-:63] A ilaahun mma ‘allahi [-:64]
Masih Merah di Ufuk Barat - Next
Inna lillaahi maa akhadza bahwa benar–benar milik Allah apa yang diambil Nya wa lahu maa a’thaita dan kepunyaan Nya yang diberikan Nya. Lillahi maa fi ssamawati wa maa fil ardhi Kepunyaan Nya yang di langit dan di bumi. Dia yang memberi. Dia yang menghidupi semua makhluk Nya. Semuanya Dia yang menjadikan. Dia yang mengawasi. Dan Dia minta per tanggungan jawaban setelah kematian.
Inna lladziina yakhsyauna rabbahum Yang benar-benar takut kepada Rabb nya bil ghaibi yang gaib, lahum mereka maghfiratun dapat ampunan wwa ajrun kabiir dan pahala yang besar. Wa asirruu qau lakum Dan rahasiakanlah perkataanmu, awijharuu bihi atau lahirkanlah inna huu ‘aliimun bidzaa tish shuduur benar-benar Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Alaa Masakan ya’lamu man khalaq tidak akan tahu Rabb Yang Maha Menciptakan; wa huwallathiifu sedangkan Dia Maha Halus lkhabiir Yang Maha Tahu sampai sedetail-detailnya. Huwa lladzii ja’ala lakumul ardha dza luu lan Dia lah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, famsyuu fii mana kibiha maka jalani lah ke segala arahnya, wa kuluu dan cari/makanlah min rrizqihii sebagian dari rezki yang diberi kan Nya. - dengan kata lain : gunakanlah untuk keperluanmu dan infakkan, sedekahkan, zakatkan dan waqafkan - wa ilaihi nnushuur dan hanya kepada Nya lah kamu kembali. Dibangkitkan diri dari kubur untuk membe rikan pertanggungan jawaban atas per buatan semasa di permukaan bumi. Bumi milik Allah swt. Diri pasti menerima pahala dari rezki yang ada di infak, sedekah, dizakat atau diwakafkan. Atau diri menerima dosa dari kesalahan yang dilakukan. Dan akhirnya menerima 1 titik destinasi [67 AlMulk 12–15; Lihat: 39 Azzumar 66. Next, 39: 73-75,72]
Tabaaraka lladzii biyadihi llmulk Maha Suci Allah yang ditangan kekuasaan Nya segala kerajaan. Alhamdu lilaahi segala puji bagi Allah lladzii khalaqa lmauta yang menjadikan mati wa lhayaata dan hidup liyabluwa kum supaya Dia mengujimu ayyukum siapa diantaramu ahsanu ‘amala yang lebih baik amalnya. Yang paling taat patuh kepada Nya.
So, sabbihisma rabbikal a’la Sucikanlah nama Rabmu Yang Maha Tinggi :
“Subhaana rabbiyal a’la”
Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.
Masih Merah di Ufuk Barat - Lupa?

Lupa ?
Nenek moyang kita Adam. Beliau dan isterinya Hawa dulu disorga bersama Allah, malaikat dan iblis. Wa yaa Aadamuskun anta wazau juka ljannah [Q.7:19]. Harusnya kita semua di sorga juga??? Namun, Adam punya kesalahan sediikit saja. Allah melarang Adam mendekati pohon terlarang [wa laa taqrabaa haadzihi sysyajarah 7:19]. Namun, itu kelihaian setan merayu, Adam melanggar larangan Allah. Ia bahkan memakan buah pohon itu. Allah berseru: “Apakah Aku tidak melarang kamu dari pohon itu dan Aku katakan bahwa setan itu musuhmu yang nyata? [7 al Anfal:22]”
Akhirnya Adam dan Hawa mohon ampun : “Rabbanaa zhalamnaaa anfusanaa wa in llam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuu nanna mina lkhaasiriin. Wahai Tuhan kami. Kami telah menganiaya diri kami. Sekira nya Engkau tidak mengampuni dan memberi kami rah mat; jelas, kami masuk orang yang merugi” [7:23].
Walau begitu, dampaknya Adam segera diusir dari sorga. “Turunlah kamu! Sebagian kamu memusuhi yang lain. Bagimu dimuka bumi tempat tinggal dan kesenangan selama hidupmu ( sementara)” [7 A’raaf 24].
Dibumi kamu hidup fiihaa tahyuuna dibumi kamu akan mati wa fiihaa tamuu tuuna dan dari bumi kamu akan dibangkitkan wa minhaa tukhrajuun ” [7:25].
Kalau begitu kita juga lebih tidak pantas di sorga. Kita punya kesalahan yang bukan sedikit dari moyang . Dine raka? Mengerikan! Pasti tak sanggup, bukan? Pikirkan!
Bagi turunan, jadilah Adam dalam silsilah nabi, seba gai nabi Adam as. Banyak Nabi setelah Adam. Simak yang terakhir. Nabi penutup. La nabiya ba’ dah. Rasul Allah, Muhammad SAW. Beliau menyebarkan firman Allah SWT yang disampaikan oleh malaikat. Itulah, al Quranul Karim. Ringkasnya :
Al Quran tak diragui keasliannya [2:02]
Petunjuk bagi muttaqiin [2:02; 69:48]
Jadi penawar [17:82]
Dari Allah [40:2; 69:43]
diturunkan kepada Rasul Yang Mulia [69:40]
Diturunkan di malam berkah [44:3]
Supaya dibaca benar-benar [2:121]
Meminta kesadaran [2:11]
Meminta kesangat tahuan (dimengerti) [2:12]
Meminta pengamalan; sebab ada sanksi, per tanggung jawaban [17:26]
Petunjuk Allah. Petunjuk untuk bahagia didunia dan sejahtera di akhirat [2:120]
Penyesalan bagi orang-orang kafir [69:50]
Antaran Cuilan
rrahmaani rrahiim
Alhamdu lillaahi rabbi l ‘aalamiyn.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad
Tulisan ini hanya mengingatkan. “Admonish your close relatives” [Q.26 Ash-Shu’ara 214]. Mengingatkan dan memantapkan untuk diri dan bagi readers. Ndak lupakan? Apa yang harus dikerjakan ?! Berarti ingat. Ingat, ya Sadar. Kesadaran inilah yang penting sekali dijaga, dipelihara, agar terhindar dari kesalahan yang melanggar ketentuan yang telah digariskan Nya. Kesadaran yang berbasis kepada AlQur-an dan Hadis Nabi Muhammad saw. Untung masih didunia. Moyang kita di suruh segera turun kedunia, karena hanya secuil kesalahan. Kita? Hitung sendiri kekeliruan! Kesalahan demi kesalahan telah dilakukan. Sengaja atau tidak disengaja. Hilang kesadaran?! Lupa. Lupa, bahwa kini sudah zaman digital. Lupa bahwa sorotan kamera insan kini, selalu mengarah kemana-mana. Hasilnya dapat live, dilihat manusia dimana jua. Seperti sama dilihat: Tawuran 15 Mart 05. Memalukan, .bukan? Dunia melihat kekurang etikaan. Moral itu yang hilang! Hilanglah kesadaran!!
Hasil Kamera Allah tercanggih. Lihat di akhirat.
Dan merah di luar ini, adalah hasil kamera jepretan anak manusia. Ia dapat menginspi- rasikan sebuah tulisan sehingga dapat tersaji :
Masih Merah di Ufuk Barat. Photo taken : Boboy.
Lanjutnya, tanggapan dari yang membaca. Setidaknya mengingatkan bagi diri dan readers.
“Well, Allah causes the sun to rise from the east; just make it rise from the west.” [ Q. 2 : al Baqarah 258 ]
Has not the time arrived for the believers to submit with fervent hearts to Allah’s warning and to the truth He has revealed, so that they may not become like those who were given the Book before this, even though their term was prolonged for them but their hearts became hardened? TODAY MOST AMONG THEM ARE TRANSGRESSORS [Q.57 al Hadid 16].
Eschew all sin whether open or secret [Q.6 al An’am 120].
Akhirnya, Redha Allah yang sama-sama didambakan.
Fadzkurullaahi ta’aala.
Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin
Rif Sjarif, H
180705