Pekerjaan setan itu membelintangkan dirinya dijalan ke benaran. Ia selalu mencari teman untuk kenaraka. Mawas dirilah. Setan selalu memperdaya manusia sesuai sumpahnya :“la aq ’uda nna lahum” aku benar-benar akan menghalangi manusia” shiraa thaka lmustaqiim dari jalan yang telah Engkau gariskan untuk ke selamatan di dunia dan akhirat [7 A’raaf 16]. Pembelintangan setan ini dari 4 arah. Depan, belakang, kanan dan kiri :Tsumma kemudian, la aa tiyannahum aku mesti memperdayakan mereka min baini aidiihim dari muka wa min khalfihim dan dari belakang wa ‘an aimaa nihim dan dari kanan wa ‘an syamaaa ilihim dan dari kiri [7:17]
Jelas sekali kesombongan setan itu, kepongahannya. Ini karena syetan sudah dikutuk dan dihina Allah. “Innaka mina shshaa ghiriin kamu sungguh-sungguh makhluk terhina [7:13]”. Karena nya, setan diakhir sumpah nya meminta Allah kelak menyaksikan : wa laa tajidu aktsara hum syaakiriyn dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan manusia bersyukur.” Tak banyak manusia yang bersyukur dan beriman kepada Allah, kata Setan.
Setan sombong. Kesombongan itu diiingatkan Allah kepada manusia agar tidak dilaksanakan manusia dalam hidup: “Walaa tamsyi fil ardhi dan jangan kamu berjalan dimuka bumi maraha sombong [17:37].
In reality, setan benar-benar mpunyai kepiawaian yang amat tinggi dalam segala daya upayanya membelokkan diri manusia mengikuti bujuk rayuannya. Ia punya kelihaian tersendiri dalam menggoda. Ia paling sabar. Perhatikan 7:17! Bila tak dapat menggoda manusia dari muka, dari belakang. Tak dapat dari belakang dari kiri. Tidak dapat dari kiri, ya dari kanan. Setan membisikkan agar manusia berbuat kejahatan selalu [114 An Naas 4] dan bisikan bisikan setan itu kedalam hati, alladzii yuwa swi su fii shuduu rinnaas [114:5]. Setan mau bertolak berangsur dengan manusia untuk melakukan kejahatan. “Ya, kalau tidak sekarang, besok boleh”. “Besoklah kau lakukan”. Pokoknya : “la aa tiyannahum, aku mesti memperdayakan kamu kamu”. Sayang suara setan tak terdengar oleh kita, manusia. Tapi ini penting sekali bagi yang berpikir. “OK,ya? Ya,buatlah dulu planning”. “Matangkan”. “Lakukanlah persiapan”. “Siapkan perkakasnya”. “Asahlah dulu pisau kau tajam-tajam”. “Ooo,Cari teman?” “Bagus, bagus”. “Ya itu yang paling bagus, ok”?. “Ya, mau kau lakukan bersama - sama?” Baguus pula. “Lakukaan!” “Lakukanlah!” “Lakukanlaaah!”. “Bagus, bukan?” “Ba guus, bagus”. “Itu baru bagus”. “Baru bagus benar kau namanya”. “Horeeee”, setan bersorak sorei. “Horeee”. Namun diri pelaku? Terengah! Akhirnya, terperengah! “Wah, wah, wah! Nyesal aku!” Jangankan di akhirat, diawal-awal pun sudah ditunggu oleh pertanggung jawaban. Setelah delik, si pelaku dijadikan saksi. Akhirnya jatuh sebagai tersangka. Last but not least, ia di vonis ke kandang situmbin. “Horeeeeee”, si setan tambah bertepuk gembira tertawa terbahak–bahak. “Rasain oleh lu!” “Luu yang pandir”. “Pandiir”. “0ngok benaaran lu kiranya, yeaa”. “Itu lah luu”. “Ongok boaaanget”. “Beneer yea. Gua yang licik, niyee!”. Itulah, lu ndak nyadarkan diri. Kini kau kanti setan ke neraka. Innamaa yad ‘uu hizbahuu sesungguhnya setan mengajak [jadi] golongannya liyakuu nuu min ash - haabi ssa‘iyr supaya mereka menjadi penghuni naraka [35 Faathir 6].
So, janganlah turut rayuan setan. Ia musuh bebuyutan yang nyata. Camkan benar. Apalagi bersahabat dengan setan. Menjadikan setan sebagai tangan kanannya. Allah marah sekali. Wa man yyakuni sysyaithaanu lahu qariynaan fasaaa a qariynaa dan siapa ada setan menjadi kawannya maka sejahat-jahat kawanlah in fact the one who chooses Shaitaan as his companion has chosen a very evil companion! [4:38] Sadarkan diri selalu untuk terhindar apalagi menjadikan setan kawan!
Istahwadza ‘alaihimu telah berkuasa terhadap mereka sysyaithaanu setan, karena ternyata mereka mentaati setan fa ansaahum dzikra llaahi telah menjadikan mereka lupa mengingat Allah ulaaa ika hizbu sysyai thaan mereka itulah golongan setan [58:19].
Banyak khuthuwaati sysyaithaan kepoh setan untuk menggoda manusia. Jelas, setan punya SIM. Surat Izin Memenjarakan manusia. Ya, melalui empat pintu masuk. Ia punya embus-embus. Punya elus-elus; rayuan. Berlindunglah hanya kepada Allah dengan sepenuh hati. A’udzubillahi ssamii ’il ‘aliymi aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui mina sysyaithaani rrajiima dari godaan syetan yang terkutuk min yaitu dari hamzihi umpatannya wa nafkhihi dari hembusannya wa naftsihi dan dari rayuannya. Setan sabar. Kita harus selalu sadar. Setan saja sabar menanti. Yang penting baginya hasil usahanya dapat memuaskannya. Bandingkan dengan manusia. Kok manusia tidak sabar. Setan punya. Sabar menanti dan memang sabar. Manusia punya Sabar Menanti tapi tak sabar di penantian. Yang paling payah menanti “Waiting is boring”. Tapi kesabaran setan memang beda dengan manusia; berbeda tujuan.
Sama menanti tapi beda tujuan. Inilah yang “sama tapi beda”. Kesabaran setan membawa manusia sebagai kanti untuk dibawa masuk neraka. Hanya manusia tidak menyadari. Sekali lagi, camkan, hanya manusia tidak menyadari. Tidak sadar laa yas’uruun [2:12]. Sedang kesabaran manusia diperlukan masing-masing diri dalam persiapan untuk mempertanggung jawabkan hasil kepatuhan dengan penuh kegembiraan. Bersyukur lah diri dapat menganut Islam. Berterima kasihlah pada orang tua. Kita bukan menganut agama lain. Karena nya, tingkatkan diri. Anut Islam dengan kaaaffah. Udkhuluu fissilmi kaaaffah, masuk Islam lah secara “kaaaffah”. Menyeluruh. Pakailah Islam yang kaffah sebagai Jubah dalam hayat sebelum ajal. Karena, se sungguhnya agama disisi Allah hanyalah Islam inna ddiina ‘indallaahi l islaam [3:19]. Siapa mencari agama selain Islam (untuk dianutnya) maka tidaklah akan diterima(Allah) waman yyabtaghi ghayral islaami diynaan falan yyuqbala minhu dan ia diakhirat masuk golongan orang yang merugi wahuwa fil aakhirati mina lkhaasiriyn [3:85]. Patuhi semua perintah Allah. Jauhi segala larangan Nya. Wadzkurisma rabbika sebutlah nama Tuhanmu wa tabattal ilaihi tabtiylaa Dan beribadatlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Rabbu lmasyriqi (Dia lah) Rab Yang (menguasai) Timur wal maghribi dan Barat. Laaa ilaaha illaa huwa Tidak ada Tuhan selain Dia. Fa ttakhidz hu wakiylaa [ 73:8-9]. Bebaskan diri dari setan. Perkuatlah kesabaran diri. Tingkatkan dan waspadai. Waspadalah terhadap bujuk rayuan setan. Yaaa ayyuhaa lladziina aamanuu hai orang-orang yang beriman, shbiruu bersabarlah kamu - dalam melakukan taat patuh dan menghadapi musibah serta menghindari maksiat. Bukan sabar untuk siap melakukan maksiat - wa shaabiruu dan tingkatkanlah kesabaranmu, wa raabithuu dan tetaplah waspada serta siap siaga, wa ttaquu llaaha serta bertaqwalah kepada Allah, dalam setiap keadaan, la ‘allakum tuflihuun supaya kamu beruntung [3:200] – dalam mempersiapkan diri supaya terhindar dari menemani setan-setan ke neraka.
So: Tekurkanlah kepala. Tanyailah diri. Sejauh mana diri sendiri dapat bersabar dalam mematuhi ketentuan yang digariskan Allah. Setebal apa keiman diri hai diri, dalam membenarkan dan mengaplikasikan firman Allah bagi hidup dan kehidupan harian, dalam menju bahkan Islam pada diri. Selalu terucap : Maha benar Allah dengan segala firman Nya. Itu dikeraskan ucapannya. Bersama. Tetapi, aplikasinya ? Lihatlah kedepan, menolehlah kekiri, begitu pula kebelakang. Akhirnya kekanan . Betapa besarnya faktualita hasil penggodaan setan. Hasil pembelintangan kesetanan dalam kehidupan; dengan romantika pencumbu rayuan sisetan jahannam yang telah membawa banyak diri ke lembah kehinaan, tiada tara. Bermacam irama kelicikan yang dilakukannya. Mengakibatkan hilang kesadaran. Renungkan !!!.
Selalulah mawas diri. Perhatikanlah trik khuthuwaati syssyaithan menggoda manusia. Contoh yang simple:
- syirik sangat diusahakannya, agar manusia berusa ha menyekutukan Allah dengan lainnya. Ia meng akui Allah Esa. Namun untuk kantinya ke naraka, ia menyuruh manusia meminta kekubur, meminta kedukun dan meminta kepada yang lain- lainnya. Bukan kepada Allah. Dibuatnya diri membangkang kepada Allah dengan elusan kelicikannya
- sombong dan kepongahan diri dibangkitkannya.. Perhatikan: Wa idzaa qiyla lahuu dan jika dikata kan kepadanya ttaqi llaah takutlah kepada Allah, akhadzat hul ‘izzatu bangkit sombongnya – meng akibatkan ia berbuat bil itsmi, dosa [2:206]. Itu sebabnya Allah mengingatkan : jaaangan sombong!
- bumbu tambahan berbuat sesuatu diluar yang difirmankan Allah; disuruhnya diri; bukan berbuat seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw. Akhirnya jalan-jalan kepatuhan melenceng sesuai dengan hasil bujuk rayuan imbauannya. Jadinya: diri telah berbuat bil itsmi. Padahannya jelas ada! Lihat penutup 2:206: fa hasbuhuu jahannam wa labi’ salmihaad maka cukuplah jahannam untuknya dan sesungguhnya itu seburuk-buruk tempat. Jahannam jelas tempat setan. Perioritas setan mencari manusia untuk disetankannya. Di jahannam kan. Yang taat patuh kepada Allah, dapat terhindar dari sana.
- malas pada diri untuk tahu, untuk belajar, untuk menelaah ditimbulkannya. Diri jadi ummi yyun buta huruf, laa ya’ lamuu na lkitaaba tidak mengetahui Kitab, tak mengetahui petunjuk, tak mengetahui tuntunan, tak berilmu, illaa kecuali, a maa niyya cerita cerita dongeng wa in hum dan mereka, illaa kecuali, yazhunnuun hanya mendu ga-duga saja [2:78]. Disini setan mudah merayap, karena diri blank. “Ini yang bagus”. “Itu kan jelek bagimu”,bisik setan. Gaya ini dibuat setan juga saat diri akan menghambakan diri, berdialog dengan Allah. Shalat! Pada waktu akan shalat; bisikannya: “Tunggu dulu. Koa lu! Kan masih ada waktu”. Wa idzaa qaa muuu ila shshalaa ti dan jika mereka berdiri untuk mengerjakan salat, qaa muu kusaa laa mereka berdiri dengan malas [4 An Nisaa’ 142]. Setan menggantungi paha, ha, ha, ha ha. Sadarlah! Segera istighfar. Wa qul dan katakanlah : Rabbi Ya Rabbku a ‘uu dzubika min hamazaatisy syayaathiin Aku berlindung kepada Mu dari bisik an bisikan setan[23:97]. Wa a‘uu dzubika rabbi an yyakhdhuruun Dan aku berlindung kepada Mu agar setan tak sampai kepadaku membawa (tipu dayanya) [ 23:98].
Trik-trik setan dengan segala kepiawaian dan kesabaran nya itu banyak sekali. Kalakian, dalam realita harian terlihat sesuatu yang buruk. Penggunaan tepung tawar, jampi-jampi dapat terjadi. Jadi permainan. Kok ya bisa begiitu? Ini fakta. OK. Mari disigi firman Nya: “ 2:102. Wattaba ‘u dan mereka mengikuti, maa tatlu sysyayathiinu apa yang dibaca setan ‘alaa pada (masa), mulki sulaimaana kerajaan Sulaiman – berupa buku-buku sihir yang mereka pendam dibawah singga sana ketika kerajaan Sulaiman rubuh - wa maa hum tiadalah mereka (ahli sihir itu) bidhaaarriyna bihii dapat memberi kemelaratan dengan nya ( ilmu sihir ) min dari ahadiin pada seorang juapun illaa kecuali, bi idznillaahi dengan izin Allah ”. Yang baik dan yang buruk baru bisa terjadi bi idznillaah. Semua dengan izin Allah. Kalau Allah tak mengizinkan, jampi - jampi takkan mangkus. Begitu juga hasil embus-embusnya takkan sangkil mangkus. Ayat Ini Perlu di Sadari ! Camkan wamaa hum bidharriyna bihimin ahaadin untuk tegak tegar dan kekar dalam penyerahan diri kepada Allah. Allah Maha Menjaga. Allah mengetahui yang dihadapan dan dibelakang kita. Semuanya kembali kepada Allah. Sebab kehidupan jelas ada akhirnya. Kematian. Dibalik kematian kembali kehidupan. Kehidupan baru tiada akhirnya lagi. Kehidupan sebagai penjawaban dari hasil pekerjaan kehidupan di dunia.
Setelah tahu kepoh-kepoh setan terhadap diri, tentu dalam hidup, diri harus punya perhitungan. Perhitungan matang amat penting sekali dikaji ulang untuk hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar