No swimsuit
Nyawa? Ke alam barzah. Bagi Islam menunggu hari penentuannya. Kok tahu. Ada petunjuk bagi siapa yang mau mengikutinya. Kitabullah dan Sunnah Rasul Nya. “Man a’ radha ‘anhu siapa yang mendustakan al Quran fa innahuu yahmilu yau ma lqiyaamati wizraa maka ia memikul dosa yang amat besar di akhirat [20 Tahaa 100]. Siapa saja; tidak peduli ia jenderal, professor, pemotong rumput, pemulung, konglomerat, milliader, presiden, raja, kalau ia kaaaffah dalam Islam, taat patuh, taqwa, ia melakukan salat dan lain sesuai ketentuan Allah, kelak diakhirat menanti sorga yang penuh kenikmatan tiada limitasi.
Bahwa Allah tidak membedakan penyabit rumput dengan jenderal, diminiaturkan di Padang Luas Arafah.
Di “Padang Arafah”, pada musim hajji, jenderal wajib berihram. Penyabit rumput juga. Bedanya? Tak ada! Hanya taqwa. Lain tak ada sama sekali. Sama-sama tak pakai swimsuit dan tak bersinglet. Jenderal pakai swim suit. Bayaar denda. Penyabit rumput, pakai swim-suit bayaar dam. Semua berihram. Serba putih. Lambang kembali. Kain putih pembungkus badan. Kafan.
Di Arafah tak ada Presiden. Tak ada Jenderal. Tak ada Raja. Tak ada Kiyai. Tak ada Pemulung. Tak ada Penyabit Rumput. Lho, bagaimana? Ya, tak ada atribut-atribut keduniaan. Yang ada hamba Allah yang sedang bermohon ampunan pada Nya atas dosa dosa yang telah diperbuatnya. Mohon bimbingan dan petunjuk kepada Nya untuk dapat menempuh kehidupan bahagia dunia dengan baik dan sejahtera dan juga di akhirat. Di berikan keredhaan atas surga Nya. Terhindar dari azab Naraka. Itu yang ada. “Labbaik, allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’ mata laka wal mulk. La syarika lak”
Nyeletuk juga saya pada seorang rekan yang berucap, bahwa sebentar tadi dia jumpa Pak Yusuf, Jenderal.
“Hormat Jenderal! Saya sersan!”, sambil ia contohkan.
“Yang ada disini hanya hamba Allah”, kata saya lunak sambil tersenyum.
Tak ada Jenderal. Tak ada Presiden dan lain. Ingatkan saat kita sedang di Makah berbelanja. 0rang Arab memanggil orang datang : “Haj, haj, haj atau hajjah, hajjah”. Dia ketawa bergumam dan membenarkan :
“O, ya. Ya yaa. Lupa saya!”
Nyawa? Ke alam barzah. Bagi Islam menunggu hari penentuannya. Kok tahu. Ada petunjuk bagi siapa yang mau mengikutinya. Kitabullah dan Sunnah Rasul Nya. “Man a’ radha ‘anhu siapa yang mendustakan al Quran fa innahuu yahmilu yau ma lqiyaamati wizraa maka ia memikul dosa yang amat besar di akhirat [20 Tahaa 100]. Siapa saja; tidak peduli ia jenderal, professor, pemotong rumput, pemulung, konglomerat, milliader, presiden, raja, kalau ia kaaaffah dalam Islam, taat patuh, taqwa, ia melakukan salat dan lain sesuai ketentuan Allah, kelak diakhirat menanti sorga yang penuh kenikmatan tiada limitasi.
Bahwa Allah tidak membedakan penyabit rumput dengan jenderal, diminiaturkan di Padang Luas Arafah.
Di “Padang Arafah”, pada musim hajji, jenderal wajib berihram. Penyabit rumput juga. Bedanya? Tak ada! Hanya taqwa. Lain tak ada sama sekali. Sama-sama tak pakai swimsuit dan tak bersinglet. Jenderal pakai swim suit. Bayaar denda. Penyabit rumput, pakai swim-suit bayaar dam. Semua berihram. Serba putih. Lambang kembali. Kain putih pembungkus badan. Kafan.
Di Arafah tak ada Presiden. Tak ada Jenderal. Tak ada Raja. Tak ada Kiyai. Tak ada Pemulung. Tak ada Penyabit Rumput. Lho, bagaimana? Ya, tak ada atribut-atribut keduniaan. Yang ada hamba Allah yang sedang bermohon ampunan pada Nya atas dosa dosa yang telah diperbuatnya. Mohon bimbingan dan petunjuk kepada Nya untuk dapat menempuh kehidupan bahagia dunia dengan baik dan sejahtera dan juga di akhirat. Di berikan keredhaan atas surga Nya. Terhindar dari azab Naraka. Itu yang ada. “Labbaik, allaahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’ mata laka wal mulk. La syarika lak”
Nyeletuk juga saya pada seorang rekan yang berucap, bahwa sebentar tadi dia jumpa Pak Yusuf, Jenderal.
“Hormat Jenderal! Saya sersan!”, sambil ia contohkan.
“Yang ada disini hanya hamba Allah”, kata saya lunak sambil tersenyum.
Tak ada Jenderal. Tak ada Presiden dan lain. Ingatkan saat kita sedang di Makah berbelanja. 0rang Arab memanggil orang datang : “Haj, haj, haj atau hajjah, hajjah”. Dia ketawa bergumam dan membenarkan :
“O, ya. Ya yaa. Lupa saya!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar