Senin, 01 Desember 2008

Masih Merah di Ufuk Barat - Ta' lagi menggebu

Ta’ lagi menggebu

Diri lahir satu-satu. Sendiri-sendiri. Bukan berduru-duru, berbondong bondong, melalui kandungan ibu. Masing-masing punya tangisan pertama. Hidup dilalui mesti dengan penuh perjuangan. Kebanyakan tanpa kesabaran. Harusnya penuh kesabaran [3:200]. Kemudian mati satu-satu. Innalilillahi ma akhadza Allah mengambil apa yang dimilikinya. Tubuh-tubuh kaku ditanam kebumi. Bagi Muslim hanya kain kafan dan papan penutup lahat. Lain tak ada. Tiada intan berlian. Tak ada emas murni. Tak ada mobil mewah yang baru dibeli. Tak ada gedung bertingkat yang dapat diangkat. Tak dapat didampingi isteri cantik yang baru dinikahi. Walaupun cinta sidia menggebu gebu, ia tak mau mendampingi. Paling paling, isakan tangis yang dimunculkannya. Lelehan air mata nan diperlihatkan nya kepada pelayat. Selesai pemakaman, semua peng antar berdoa. Akhirnya, tinggal diri dibawah himpitan tanah nan lambang, rumput nan layu menjadi saksi.

Tidak ada komentar: