Senin, 02 Februari 2009
Realisasi Nadzir
yaumu ttaaghabun
Itulah
Hari Pembuktian
[ 64 At Taghaabun : 9 ]
Habit
Hidup itu, habit
Kebiasaan
Baik dan Buruk
Baik yang dikembangkan
Hasilnya paaasti baik.
Baik itu berbasis petunjuk Allah
Mbawa ketenangan dihati ini
Rupakan kecambah sorga didiri
Buruk dihebitkn
Ya, hasilnya jelas buuruk.
Smua merupakan goresan jadinya
Goresan buruk didiri
Dah doosa itu, kan ?
Kedamaian dan ketenangan batin
hilang jadinya
Buruk mula... tak apa-apa ahh kata si seetan
Lama-lama, ee numpuk sudah,
Ya Nyeesal
Dah Naraka itu jadinya
Sebelum terjadi nan bak nantun
Ati’ullaha wa ati’urrasuuluhu
Realisasi Nadzir
Nadzir sudah datang pada masing diri.
8,9 Richter dan Tsunami. Uban .Gigi . Penglihatan. Makan ditakar.
Jum’at sore itu yang datang minta maaf beliaupun memaafkan. Beliaupun minta maaf, yang datang sama-sama memaafkan. Alhamdulillah. Saling memaafkan. Cerianya hati beliau dan semua yang melihat. Paginya Sabtu, saat bangun pagi, beliau tak bicara lagi. Lidah rupanya menjadi kalu. Yaa, kalu. Menjadi kalu. Ujung lidah sudah tertarik kekerongkongan. Tak bisa untuk bicara lagi. Air minum saja tidak dapat lagi melewati kerongkongan. Dimasukkan kemulut, ya masuk. Air menumpuk di dalam. Jangankan nasi yang akan liwat, airpun tidak.
Rupanya, inilah pintu tobat, bagi yang bersalah, tak bisa diterima lagi. Ya, bagaimana akan tobat. Bicara saja tak bisa lagi. Saat ini sudah amal yang bicara. Nunggu hari.Ya, menunggu hari bagi beliau. Lanjutnya, tentu diinfus.
Kamis jam 6.35 sore, terlihat tanda-tanda kepergian beliau. Tuntunan menghadapi maut dilaksanakan. Tak ada tanda komat komit di bibir. Jam 6.50 pm: “Ya Allah. Beliau dari pandangan kami orang baik-baik. Engkau perlihatkanlah bahwa yang baik itu hasilnya benar - benar baik”. Jam 7.00 pm bersin menggema dari mulut beliau, teriring ucapan : “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin”. Yang hadir secara otomatis menyambut ucapan itu dengan doa : “Yar hamukallaah” Semoga Allah mengasihimu. Selesai itu terdengar: “Asyhadu allaa ilaaha illallaaah wa asyhadu annamuhammadarrasulullah” dari mulut beliau. Beliau bersin lagi, dengan Alhamdulillaah. Otomatis kami berucap : “Yarhamukallah”. Kembali dari mulut beliau: Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullaah. Bersin lagi, dengan iringan Alhamdulillah. Otomatis lagi kami : ”Yarhamukallaah” ~+an: “Yahdiykumul laahu wa yushlihu baa lakum". Semoga Allah memberikan hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu”~. Beliau akhirnya mengucapkan : “Asyhadu allaa ilaa ha illallaaah”, diiringi senyuman manis. Otomatis, beliau dicium”. “Alhamdu lillah, beliau sehat. Beliau sehat kembali”. Tapiii, tetapi yang berhadir sudah mengucapkan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun”. Mata ditutupkan. Infus segera dicabut. Selendang dipasangkan melilit dagu kepuncak kepala. Dan ndak percaya rasanya saat itu bahwa beliau sudah tiada. Kembali kepada Nya. Pergi nan takkan kembali lagi untuk selamanya. Innaalillaahi ma akhadza. Ya jiwa yang tenang, selamat kepada-Nya dengan senang. “Yaaa ayyatuhaan nafsul muthma innah” “Hai jiwa yang tenang!”: Wahai jiwa yang telah yakin kepada perkara yang haq dan tidak ada lagi perasaan syak. Engkau telah berpegang teguh kepada ketentuan- ketentuan syariat, sehingga tidak mudah terombang ambing oleh nafsu syahwat dan berbagai keinginan. “ O fully satisfied soul!” “Irji’iiy ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyah” “Kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang puas lagi diredhai Nya” : Kembalilah kamu ke tempat terhormat di sisi Tuhanmu dan relakanlah amal perbuatanmu ketika hidup didunia dan engkau telah memperoleh keredhaan dari Nya. Sebab engkau tidak berlaku tamak pada kekayaan dan tidak berkecil hati serta mengeluh tatkala ditimpa kefakiran. Tiada keluh kesah yang pernah dimunculkan. Kamu tidak pernah melanggar ketentuan – ketentuan syariat di dalam mengambil hak – hakmu dan didalam menunaikan kewajibanmu “Return to your Rabb, well pleased with Him and well pleasing to Him”. [89 : 27-28].
Gembira hati melihat kepergian beliau, penuh kedamaian yang lembut lagi menyenangkan. Semoga beliau di masukkan ke dalam golongan hamba – hamba Allah yang shalihin dan mukramin. Daan bersenang – senang ditempat yang di janji Nya menikmati segala yang belum pernah terlihat dimata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah tergambar dalam hati seorang pun.
Seminggu setelah itu, dalam cacatan beliau yang bertulisan indah, tulisan orang dulu, tertera: “Lakukanlah yang baik-baik. Yang baik-baik dilakukan, bila masih ada orang marah, biarlah. Yang penting Allah sayang sama kita”. Realitanya, Allah memperlihat kan kesayangan dan kelembutan Nya pada saat beliau meninggalkan dunia fana ini. “Ya Allah, dari contoh ini, tuntunlah kami selalu. Jadikan kami dan turunan kami termasuk orang – orang yang berjiwa tenang, redha dan Engkau meredhai. Segala puji bagi Mu ya Allah, Rabb Semesta Alam dan salam serta salawat untuk Nabi kami, Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aamin Ya Rabbal ‘aalamiiyn”
Demikian Allah memperlihatkan ke Maha Besaran Nya. Dari lidah kalu, lidah yang tertarik ke kerongkongan yang kelihatannya bulat saja lagi, dari lidah ini dapat kembali menjadi pacak, lancar, fasieh dalam mengucapkan alhamdu lillaahi rabbil ‘alamiin dan asyhadu alla ilaha illaallaah wa asyhadu annaa muhammadarrasulullah.
Subhanallaah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah wahdah laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyiy wa yumiit wa huwa ‘ala kulliy syaiinqadiir wa atuubu ilaika ya Allahu Rahmaanur Rahiim.
Topan Nabi Nuh kita ketahui melalui Al Quran. Nabi Nuh as membuat perahu di bukit. Bagi penantang Nuh as ia dianggap tele waktu itu. Nah, inilah Noah sample fact reality di jaman mellineum. “Jadi”, maka “Jadilah”. Tak sulit bagi Allah berbuat sekehendak Nya. Kun fa Yakuun.
Sedang segar diingatan bagaimana dahsyat kejadian gempa berkala 8,9 Richter dan akibat yang timbul di tanah rencong Nangro Aceh Darussalam, Minggu dipagi 26 Desember 2005. Diiringi dengan Tsunami yang berdampak gelombang samudera. Juga ke Thailand, India dan Madagaskar di pantai Timur benua Afrika. Laju gelombang laut itu baru 900 kmph. Ferary Schumaker saja 350 kmph lajunya. Itu sudah yooong, joung, young bunyinya. Kencang sekali. Mengasikkan ditonton bagi pencandunya . Gelombang Tsunami, jelas laju banget. Tetapi, bukan mengasikkan. Bahkan, sebaliknya. Malahan. Sangat-sangat mengerii kan. Dihantarnya kapal apung besar dari Lautan Hindia ke kejauhan 6 km keatas daratan. Ribuan jenazah didoyong 8 km dari rumah mereka. Digantung gelimpangkannya ratusan tubuh diketinggian 9 meter lebih pada dinding tebing di Lhok Nga. Tsunami ini melibas segala apa yang menghalangi nya.Tanpa ampun. Saksikan hasil rekaman video amatir. Telanan korban 283.106 jiwa. Yang meninggal dari yang kecil. Ibu hamil, babies, muda, baya dan tua, bangka. Tak pandang usia. Tak pandang bulu. Tak pandang bangsa. Tak pandang warna. Tak pandang agama. Pangkat dan jabatan. Kaya dan miskin. Siapa nanya siapa menduga. Mereka pergi. Dalam sesaat tak lagi kembali. Sedang bercerita ria. Penuh cengkerama. Bermain pnuh lincah bersuka cita dipantai indah. Berlarian mengincar ikan ke tengah laut, sesaat air surut jauh kelautan. Surutnya air laut, ya nadzir. Bagi kita yang melihat rekaman, ya itu nadzir untuk diri. Banyak lagi gempa-gempa dan bencana banjir lainnya yang akan terjadi. Longsor. Tabrakan. Kehancuran. Yang paling hebat, tentu kiamat.
Demikianlah. “Kun”, kata Allah. Fa yakun Maka jadilah. Hancurkan. Ya hancur. Luluh lantakkan. Ya, bi idznillah.
Semuanya nadzir. Pertemuan. Pernikahan. Kehamilan. Teman-teman yang dulu ada, kini telah meninggalkan kita dan lain sebagainya. Itu nadzir. Yang muda jangan sombong menyebut: “Saya masih kekar, masih gagah, masih sehat”. “Gigi belum tanggal. Rambut masih hitam. Kalau dia penglihatannya sudah kabur. Makan sudah bubur; bahkan sudah ditakar. Tak lagi bisa makan ikan bakar”. Ya, nadzir sebetulnya sudah datang pada setiap diri yang mau menyadari keberadaannya harian. Simak lagi, Datang Tiada Penghalang. So, harian segera bangun subuh. Bersyukur. Sembahlah Allah saja . Bertebaranlah. Tanpa melupakan Nya. Diakhiri dengan datang malam. Berserah diri serta bersyukur setelah menyembah Nya. Hidup adalah dari waktu kewaktu penyembahan kepada Nya yang Maha Esa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Maha Agung. Semua menunggu; menunggu tetap penuh juang.
Yang tak menunggu berarti sudah selesai. Dimana? Ya, dimana sudah ada penyelesaian akhir. Selagi masih belum ada penyelesaian akhirnya, ya pasti menunggu harinya. Menunggu saatnya. Menunggu detik nya. Lho, dimana titik akhir tanpa menunggu. Ya, dihari pertanggungan jawab telah dilalui dan selesai penempatan nya. Itulah dia, di syorga. Tak ada hari menunggu lagi. Yang ada hari menikmati hasil amal baik, tiada limitasi.
Selagi belum ada tempat demikian itu, ya lalui menunggu hari bagi masing-masing diri.
Macam-macam yang muncul saat itu. Berdoalah pada Allah dengan berusaha selalu membuat yang baik – baik sesuai ketentuan Nya. Setidaknya jangan lakukan yang buruk sesuai larangan Nya.Cegah diri dari kejahatan bisikan setan terkutuk. Senyum saja, baik. Merupakan sedekah yang amat simple. Berpahala. Menambah amal. Memberatkan timbangan kanan. Berwajah cemberut. Jangan!Membuat beban. Berat itu. Rasul saw saja ditegur Allah.[Surah 80 ‘Abasa]
Dr.H.Subki Abdul Kadir memisalkan diri ini ibarat piring. Piring dipinjamkan pemiliknya kepada peminjam. Dipinjamkan, bersih. Piring dipakai. Ya, dipakai. Setelah dipinjam, wajib dikembalikan kepada pemilik.
Yang empunya, kalau kembaliannya: bersih; hatinya pasti senang. Mau dia meminjamkan kapan saja diperlukan lagi. Tetapi, dipinjamkan oleh pemilik bersih, kembalinya kotor. Jelas yang empunya kurang senang, walau tak marah. Piring-piring disiraminya air panas. Kalau pecah, ya ke tong sampah. Lanjut dibuang lagi ke TPA. So, tiga tempat kembalian. Nah, itu event di dunia. Langsung dimasukkan kedalam lemari piring nan indah; yang mahal beli dan rancak buatannya. Itu sorga piring. Sebaliknya, dicuci dulu dengan air panas; karena banyak minyaknya. Itu narakanya piring. Pecah saat dicuci, ya, dibuang saja ke tempat sampah. Diakhirat, mungkin sample pecah ini untuk karak naraka. Ia tidak akan muncul muncul lagi.
So, pinjam piring kembalikanlah dalam keadaan bersih supaya senang hati pemilik. Diri pinjamanan Allah swt. Berusaha untuk kembali dalam keadaan suci; setidaknya bersih. Berat timbangan kebaikan dari kotor.
Roh diri yang dari Allah kembalinya kepada Allah karena amal kebaikan; menjadi tentram.
Yaaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’iii ilaa rabbiki raadhiyatan mmardhiyyah. Fadkhuliy fiy ‘ibaadiy. Wad khuliy jannatiy. Hai jiwa yang tenang tenteram (bersih) Kembali lah kepada Tuhan mu dengan senang (radiah) dan tenang (di redhai Nya). Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba Ku. Dan masuklah kedalam sorga Ku [89:27-30].
Rabbanaa innaka man tudkhillin naara faqad akhzaytahuu, wa maa lizh zhaaalimiyna min anshaar.
Ya Rabbanaa. Siapa yang Engkau masukkan ke dalam naraka, sesungguhnya Engkau telah menghinanya. Dan tidak ada penolong bagi orang- orang yang aniaya [ 3 : 192 ]
Jadi, masing-masing diri sudah diingatkan : Alas tu birabbikum. Dan telah dijawab : Balaa syahidna. Lahir kedunia tetap suci. Diingatkan lagi dengan firman- firman Nya. So, diharapkan didunia, diri :
- diperintahi Nya yang baik supaya tetap mengerjakan yang baik untuk bersih.
Faktanya ia mengamalkan yang baik-baik. Kembali diri kepada Nya. Ya suci. Tempatnya, ditempat yang suci. Tempat yang suci itu syorga. Hum fiihaa khaaliduun - dilarang menyalahi ketentuanNya supaya aman, selamat. Nyatanya mengerjakan yang jelek-jelek juga. Sudah diberikan Pegangan: al-Quran dan Hadis. Tidak juga berusaha. Masih cuek saja. Masih lalai. Tentu hasil nya akan tetap jelek.
Tempat yang jelek itu, di Neraka,bukan ?
Lagi, lagi mari sama disadari and dipikirkan isi surah al Fajr 23: wa jiiiy a yaw maidzin bi jahannam dan pada hari itu diperlihatkan naraka jahannam.
So, jangan terjadi sperti yang dibawah ini bagi diri !:
”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (kedunia) agar kami beramal saleh. Benar-benar kami yakin [32 as Sajdah :12]”.
”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku ber amal untuk hidupku ini [89 al Fajr : 24]”
Jadi dengan mawas diri dan melakukan yang baik-baik; sesuai perintah Nya, pasti hasilnya baik. Balasannya berlipat ganda. Berbuat baik berarti kita melakukan kebaikan. Dan kebaikan itu adalah, al birra, righteous.
Al birra itu pada mulanya berarti kebenaran yang melahirkan ketaatan. Abrar = benar. Dan itu adalah kebajikan yang sempurna. Di definisi kan lagi: albirra adalah himpunan segala nilai-nilai baik, inklusif nilai-nilai agung. Nilai-nilai luhur dan dari segala perbuatan yang baik-baik. Segala yang baik-baik dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang didasari dengan iman dan taqwa.
Kebaikan itu ialah keimanan kepada
- Allah, [Allah itu satu; bukan lebih]
- hari akhirat, [setelah hari kematian. Hidup lagi. Kekal]
- para malaikat, [ada yang menjaga tingkah laku]
- kitab-kitab, [petunjuk yang Maha Benar]
- nabi-nabi [penyampai firman Allah]
- dan memberikan harta yang disukai kepada (6a) kaum kerabat, [yang dekat]; (6b) anak yatim, [anak tanpa ibu] ;(6c) orang-orang miskin, [minim biaya hidup]; (6d) musafir [pejalan yang tak punya bekal lagi]; (6e) orang yang meminta - minta, [no money; broke]
- memerdekakan hamba sahaya, [kini tak ada lagi]
- mendirikan salat, [amal wajib 5x sehari; pertama ditanyai nanti]
- membayar zakat, [taxable]
- menepati janji yang sudah dibuat, [wajib ditepati]
- sabar waktu mengalami, (11a) kesempitan, [kesusahan]; (11b) penderitaan dan [kesusahan kelaparan dan sebagainya]; (11c) dalam peperangan. [melawan musuh islam]
Orang-orang demikian itulah yang benar dan merekalah yang bertaqwa [2 ::177]
[2/177: Righteousness is not whether you turn your face towards East or West; but the righteousness is to believe in Allah, the Last Day, the Angels, the Books and the Prophets, and to spend wealth out of love for Him on relatives, orphans, helpless, needy travellers; those who ask for and on the redemption of captives; and to establish Salah (prayer), to pay Zakah (alms), to fulfil promises when made, to be steadfast in distress, in adversity; and at the time of the war. These people are the truthful and these are the pious].
Kemudian:
Diwajibkan atasmu, bila kamu kedatangan tanda-tanda maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa [ 2:180 ]
Karena setiap saat yang dilalui selalu ada nadzir yang menyadarkan, maka berdasarkan kutipan hadis sahih:
- berwasiatlah
- angsurlah memulangkan barang pinjaman
- bersegeralah minta maaf; diberi tak diberi minta maaflah
- maafkan kesalahan orang secara tulus hingga tak ingat lagi
- perbanyak minta ampun dari nan sudah; utama saat akan tidur dan pahami permohonan itu
- sering mengingat dosa nan lalu, hingga benar- benar takut akan azab Allah dan tak berbuat lagi
- angsur mengurangi aktivitas kehidupan dunia
- perbanyak aktivitas kematian eg. ziarah sisakit, melayat kematian, ziarah kubur
- buang angan-angan; bisa habiskan amal
- buang habis-habis segala panyakit hati
- tingkatkan amal akhirat
- tingkatkan zikir
- beribadah yang jelas-jelas saja.
- Jauhi bid‘ah
Ibnu Malik mengatakan bahwa dinegerinya orang- orang berilmu , mencari ilmu yang campur baur hanya sampai umur 40 tahun. Setelah itu mereka tak lagi mencari kehidupan dunia. Hanya fokus pada hari-hari kematian.
Namun fakta, bagi kehidupan dunia ini, umur 40 an keatas puncak karier yng diperebutkan. Malahan lupa caranya. Sampai lupa daratan jadinya. Main sikut bermunculan. Emosi berluapan. Segala cara dihalalkan. Namun, lupa, bahwa sedang atau setelah itu, kematian mengancam. Kematian diikuti kemurkaan Allah? Didunia menerima murkanya manusia.
“Kematian menjadikan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup. Sebuah resiko pasti dari hidup adalah mati. Ia menjadi bagian yang sering kali tak lagi diperhatikan, karena ia sudah menjadi lumrah. Media masa setiap hari mengabarkan kematian. Entah dengan cara bagaimana dan sebab apa. Nyatanya kematian menjadi sebuah kabar yang tak lagi membuat kita berduka atau berkabung. Ya, sebab kita begitu kebal karenanya”, tulis Sudarmoko dalam ‘Membaca Kematian dalam Sastra’ di Kompas 13 Maret 2005.
Memang ini yang sama kita lihat. Manusia hari ini merasa diri kebal, kebal segala. Kebal juga dari tuntutan korupsi? Kematian tak lagi di persiapkan. Allah terlalaikan. Terlalaikan dalam melakukan shalat. Menghamba kepada Nya. Bahkan ada yang melengahkan Nya . Melengahkan; tidak melakukan shalat. Meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, adalah perbuatan yang merupakan dosa besar. Disisi Allah, dosanya itu lebih besar dari merampas harta, bahkan dari membunuh. Ia akan dihinakan Allah swt. Kemudian ia berhadapan dengan kemurkaan Allah . Pada hal di KTP, Islam. Disebut tak Islam, pasti ia naik pitam. Membunuh ia pun mau, bukan? Bahkan mutilasi dapat terjadi akibat spele. “Sembahlah Aku”, firman Allah. Nyatanya? Nyatanya kekuatan setan besar, amat amat tinggi sekali mempengaruhi dirinya. Sedang agama adalah bagi orang yang berakal. Orang yang berakal yang mempunyai kesadaran terhadap yang haq. Setan berbangga hati melihat orang yang tak mau menyembah Allah. Ia tertawa terbahak-bahak. Kalau begitu, kontradiksi harus dilakukan bagi kebanggaan dan tawaan setan. Buatlah setan-setan keparat bersedih, menangis. Menangis. Setan pasti akan menangis melihat orang yang mau bersujud kepada Allah. Penuh khusuk melaksanakan shalat. Makin keras tangis setan. Bahkan setan menjadi histeris melihat: “Mereka bersujud kepada Allah. Syorga baginya. Aku menantangnya. Naraka bagiku”. So, bentengi diri dengan shalat. Wakmur ahlaka bish shalaati washthabir ‘alayhaa. Dan suruh keluargamu shalat dan tetaplah mendirikan shalat Enjoin Salah on your people and be diligent in its observance [Thaa Ha 132]. Shalat itu manis, diawali dengan keikhlasan dan diakhiri dengan ihsan. Pikiran jelas menjadi tenaaang.
Rahman Allah ada didunia. Rahim Nya hanya akan dilimpahkan Nya berupa ampunan dan Sorga yang telah dijanjikan Nya; bagi yang melakukan al birra. Rahman Allah untuk semua yang di dunia, bahkan dengan limpah ruahan yang tiada taranya. Namun bila tak diikuti shalat – bagian dari righteous [vide 2 : 177], maka tersembunyi Murka-Nya. Murka yang pasti dilaksanakanNya terhadap setan dan koroninya; yang menyanggah ketentuan-ketentuan Nya selama didunia. Semasa hidup.
Berbekal lah. Jangan tak dipersiapkan di dunia bekal untuk setelah kematian. Jangan diri melupakan bahwa hidup didunia ini dilalui cuma sementara. Kematian bukanlah akhir kehidupan. Ingatlah : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah faasiquun [59:19].
Lupa kepada Allah, lupa kepada diri sendiri. Moral hilang. Yang model beginilah yang membuat hidup menjadi seenaknya saat belakangan ini. Ia menjadi curanmor, perampas, pekosa, pembudur-budurkan pusar, pembakar orang, pemutilasi, pengantongi yang tak haq. Karenanya kembalilah kepada Allah. Marilah setan dibuat menangis. “Wa lakum fil ardhi Bagimu di bumi mustaqarrun tempat tinggal wwa mataa ‘un ilaa hiiyn dan kesenangan sementara waktu [7:24]”. Di bumi hidup ini pendek, ditentukan, sementara. Yang lama di hari tiada akhir, setelah dibumi. Setelah kematian. Semua kita mesti melalui kematian. Wajib. Semuanya dibawah tatanan Allah swt.
So: Kematian, sesungguhnya awal kehidupan tiap diri. Sebelum Datang Tanpa Penghalang, perbanyak sujud. A’inni ‘alaa nafsika bi katsratis sujuud. Tolonglah dirimu dengan memperbanyak sujud [HR.Muslim].
Allaahumma ahsin ‘aa qibatanaa fil umuuri kullihaa wa ajirnaa min khiz-yiddun-yaa wa ‘adzaabil aaakirah.
Yaa Allah, baikkanlah akhir segala urusan kami. Dan jauhkanlah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.
Allaahumma inni as aluka iimaanan kaamilan wa yaqiinan shaadiqan wa risqan waasi’an wa qalban khaasi’an wa lisaanan dzaakiran wa halaalan thayyiban wa taubatan nashuuhan wa taubatan qablal maut wa rahaatan ‘indal maut wa maghfiratan wa rahmatan ba’dal maut wal afwa ‘indal hisaab wa lfauza bi ljannati wan najaata minan naari bi rahmatika yaa ‘aziizu ya ghaffaaru rabbi zidni ‘ilman wal hiqnii bi shshaalihiin.
Ya Allah. Aku memohon kepada Mu: iman yang sempurna, keyakinan yang mendalam, rezki yang lapang, halal lagi baik, hati yang khusuk, lidah yang berzikir dan tobat yang sungguh-sungguh, tobat sebelum mati, tenteram ketika mati, ampunan dan rahmat Mu setelah mati, ampunan ketika dihisab, meraih syorga dan terhindar dari naraka, dengan rahmat Mu, wahai Yang Maha Mulia, Maha Pengampun. Yaa Tuhanku, tambahilah ilmu pengetahuan ku dan masukkanlah aku kedalam golongan orang-orang yang saleh.
Ada hal yang sering orang terlupa atau tidak tahu kebesaran pahala yang diperolehnya. Padahal kerjanya mudah. Itulah sembahyang jenazah. Tanpa rukuuk. Tanpa sujud; hanya empat kali takbir. Modalnya : Kesediaan diri. Wuduk. Niat. Berdiri. Mengikuti imam dengan empat takbir. Salam. Ok, selesai. Pahala, tu. Mudahkan! Tetapi banyak orang yang tak melaksanakannya. Tak tahu? Bukan! Setan!
BACAAN SETELAH TIAP TAKBIR KE :
1. Fatihah. [Semua kita bisa]
2. Salawat atas Nabi. [Semua bisa]
3. Doa untuk yang dewasa [lupa???, OK:]
Minimal :
Allahummagh firlahu.
Warhamhu
Wa ‘afihi wa’fu’anhu
Wa akrim nuzulahu
Lengkapnya:
Allahummagh firlahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassii’ mad khalahu wa aghsilhu bimaaiw wa tsaljiw wa baradiw wa naqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadu minad danas wa abdilhu daaran khairanan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa adkhilhul jannah wa a’idz-hu min ‘adzaabin naar.
Ya Allah. Ampunilah dia. Kasihanilah dia. Maafkanlah dia. Sejahterakanlah dia. Muliakan lah tempatnya. Lapangkanlah kuburnya. Sucikanlah dia dengan air, salju dan embun. Sucikanlah ia dari kesalahannya, sebagaimana sucinya kain putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik. Gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik. Masukkanlah ia kedalam syorga. Jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa naraka.
BACAAN BAGI ANAK KECIL:
Allahumma j ‘alhu lana
salafan
wa farathan
wa ajrann
Ya Allah jadikanlah dia bagi kami
Sebagai pendahuluan (penjemput)
Tabungan
Dan pahala
4. Doa :
Allahumma
laa tahrimnaa ajrahu
wa laa taftinnaa ba’dahu
wagh fir lanaa wa lahu
Ya Allah. Jangan tahan untuk kami pahalanya. Jangan tinggalkan fitnah setelah dia. Ampunilah kami dan dia.
Menurut Abu Hurairah ra. : Orang dahulu biasa membaca: “Rabbanaa aatina fiddun yaa hasanataw wa fil akhiraati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar” .Ya Allah. Berilah kami kebahagiaan didunia dan di akhirat Dan peliharalah kami dari azab api naraka.
Selesai membaca doa, imam mengucapkan salam. Makmum mengikuti pula salam : “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh”. Inilah hablum minannas. Tidak sulit, bukan?
Jadi ada kesempatan shalat jenazah, beramai-ramailah melaksanakannya. Pahalanya satu qirath [sebesar bukit Uhud]. Mengiringi jenazah sampai selesai penyelenggaraannya, menjadi dua qirath.
Ibnu Umar : “Sesungguhnya selama ini kita telah mengabaikan pahala ber qirath-qirath; karena tak ikut salat jenazah”.
Sungguh, itu benar-benar terdapat peringatan bagi yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengaran, sedang ia menyaksikan [50:37]
Marilah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang mempunyai hati, menggunakan pendengaran, mematuhi Nya, karena kita mengimani dan menyaksikan bahwa yang benar itu benar adanya. Semua itu dibawah kuasa Nya. Dibawah pengaturan Nya. Dibawah pengawasan Nya. Dia lah Allah Tuhan Semesta Alam.
Rabbana. Berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk selalu menyembah Engkau, mematuhi ketentuan dan menjauhi larangan Engkau, supaya kami dapat terhindar dari ketidak mampuan untuk bersujud pada hari memuncaknya siksaan:
Yauma yuksyafu ‘an saaqin wa yud’awna ilas sujuudi fa laa yastathii’uun. . Khaasyi’atan abshaaru hum tarhaquhum dzillatun, wa qad kaanuu yad’awna ilassujuudi wa hum saalimuun*.
Di hari betis disingkapkan mereka dipanggil untuk bersujud, ternyata mereka tidak kuasa*. Pandangan mereka tunduk kebawah, diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru untuk bersujud saat mereka dalam sejahtera (hidup didunia dan mereka tolak) *
On the Day of Judgement when the dreadful events shall be unfolded, and they shall be asked to prostrate themselves, they shall not be able to do so* They shall stand with the eyes down cast, utterly humbled; because during their safe and sound earthly life they were called upon to prostrate themselves but they refused to do so*. [68 :42-43]
* Mereka berkesempatan saat salimun nya untuk melakukan sujud [shalat kepada Allah] saat didunia swt tetapi tak mereka indahkan.
Resiko tidak mengindahkan ketentuan Allah semuanya terekam. We are recording all that they are sending ahead and they are leaving behind. We have recorded everything in an open ledger* [ 36 : 12 ]
Recording book in an open ledger ini akan dilihat; karena diserahkan terbuka.
Then the book of their deed will be placed before them. At that time you will see the sinners in great terror because of what it is recorded therein. They will say: “Woe to us! What kind of a book is this? It leaves out nothing small or large; all is noted down!” They will find all that they did recorded therein. Your Rabb will not be unjust to anyone in the least [18: 49]
So masih ada waktu, sadari. Masih Merah si Ufuk Barat. Ada seruan muazin, Tinggalkan seruan lain. Kini tiba saatnya menyembah Allah. Saling mengingatkan. Seruan hiruk pikuk music, teve, hingar bingarnya dunia dalam mencari rezki stoplah sesaat. Bagi pencandu lomba pancing, yang sengaja telah meninggalkan kotanya sedari pagi dalam mencari ketenangan menuju kolam-kolam pancing di pedasaan yang tenang; yok tinggalkanlah pancing sesaat. Biarlah ikan istirahat pula sejenak utk tidak mengganggu umpan di pancing itu. Jangan salat sampai dilupakan pula. Toh selesai salat, batin menjadi tenang hati menjadi tenteram. Ya, we feel fresh n yea silakanlah pula berkarya kembali sesuai ketentuanNya penuh ceria.
050321
Berbalik Membelakang
“Yok. Mari makan pagi. Semua sudah Ok”, kata bang Rid. O, ya. Mari kita nikmati. Bismillaah.. Allaahumma baarik lana fii maa razaqtanaa waqinaa adzaa bannar. Di Malaysia ini diucapkan bersama di meja makan. Pokoknya janganlah lupa. Begitu mengerikan azab naraka, kita dituntun untuk selalu mengucapkan doa. Semoga kita terhindar dari naraka. Allaahumma inni as aluka ridhaaka wal jannah wa a’u dzubika min sakhatika wan naar. Makan pagi pakai petai. Bermacam gaya penampilannya. Panggang. Rebus. Di uok an. Ya diatas nasi yang sudah mendidih hampir masak itu. Digoreng. Mentah. Di kalusuak anjakkan. Petai mentah itu oleh si Sadar dimasukkan dalam tungku. Dipanggang dan diputar-putar dalam abu panas tungku dapur itu. Tentu sampai maasak, dong. Kalau perlu, sedikit hangus. Eeenak. Itu kesenangan yang mengasikkan. Hasilnya? Wow!! Nikmatnya bukan main makan pagi kami. Baru taau, kan? Alhamdulillah. Barakallahuli wa lakum.
Pakai daun capello lagi. Cabenya lado kating. Orang di sana menyebutnya lado tonggeng. Ya, nikmat. Cuma daun singkong, olahannya tidak seperti olahan orang Batak. Tidak ditumbuk. Tak apa - apa. Tetapi ada yang istimewa di daerah ini. Daun singkong goreng yang disajikan waktu baralek, itu merupakan sambal adat katanya. Daerahnya didesa, saat itu calon, seorang besar pimpinan organisasi besar di tanah air ini.
O ya. Bicara sambal adat, banyak sekali kalau mau di munculkan. Pasti anda juga nantinya akan menambah kan ilustrasi ini: Kalau bagi kami disini, ini yang adat; seperti ini yang pernah saya alami. Pernah saya cicipi dan lain sebagainya sesuai fakta. Bermacam reaksi spontan yang anda munculkan. OK. Bagus! Bagus. Kumpulkanlah berbagai pengalaman. Itu menyenangkan, bukan? Setidaknya bagi diri sendiri, yang punya pengalaman hidup; yang semuanya menyenangi nikmat Nya.
Namun kali ini, cukup satu lagi. Gulainya kelihatan appierensnya enak sekali. Seperti kalio. Masakannya, ya, berselera. Menerbit kan air liur. Tetapi potongan dagingnya kok segi empat seperti kubus; dadu besar. “Itu jangan diambil”, bisik beliau kepada yang tergerak tangannya untuk menyentuh; setelah melihat tarikan piring kearah yang mau mencicipi. “Itu bukan kalio benaran, ndak sungguhan; tetapi siluman kayu”. “Dari kayu, lo?” “Ya, dari kayu. Kayunya besar. Ber iro, persis seperti iro daging”. Oi. Siapa nyana siapa menduga, kalau itu bukan kalio. So, berjalanlah dimuka bumi yang disediakan untukmu. Famsyuu fii manaa kibihaa [67:15]. Kamu tahu bagaimana kebesaran Allah. Kamu tahu akibat perbuatan tangan anak manusia sendiri. Merantau lah! Karatau madang diulu, babuah babungo balun.
Nikmatilah dengan penuh kesyukuran apa apa yang diberikan Allah kepadamu. Pasti kamu merasa bahagia, senang dan gembira. Allah sayang kepada hamba Nya. Dia Rahman. Fa biayyi ala irabbikuma tukadzdzibaan [31x dalam Ar Rahmaan, juz 27]
Tabaa rakasmu Rabbikaa dzil jalaali wal ikraam. Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Kehormatan [55:78]
Petai ini obat. Obat bagi siapa yang mau memikirkannya dan mengolahnya. Petai mentah yang matang nya bagus, yang baru dipetik, makan dengan kulit-kulit nya. Dari pengalaman: memperlancar jalannya air seni. Petai dimakan banyak, bagus. Apalagi petai sisa monyet yang sudah mengkecambah. Namun, ada petai ada jering. Ya,yaa. Jengkol. Jangan banyak memakan jengkol. Dapat mengganggu bagian belakang. Banyak me makan, dapat menimbulkan penyakit. Nama penyakit nya “dikabek jariang”. Wow. Sakitnya bukan main. Ya, bukan main. Bagi yang mengalami. Obatnya? Ada yang terjun masuk kolam. Mandi. Jangan! Itu menambah penyakit. Ambil air panas. Minum lah yang banyak. Dan kompres pinggang itu dengan air panas. Sampai kadar sakitnya turun.
Jam delapan main-main ditepi Batang Sami. Jaraknya hanya dua meter dari sendi pondok verdepping. Beniing – not beijing - sekali airnya. Menyenang dan menyejukkan diri saat bermain di air bening ini sambil mengayaukan kaki, dengan gembiranya. Lubuknya saja Lubuk pandalian. Matanya mata kucing. Airnya, wah sungguh bening. Kebeningannya memunculkan dasar kerikil halus dari bawahnya. Tali tali bermain menari-narikan bodies nya yang semampai panjang. Mereka bersama dengan ikan lainnya bermain penuh keceriaan. Bermain sebebas-bebasnya didalam kebeningan. Gemerincing bunyi air bening bila dikayaukan membuat hati semakin senang dan tenang. Udang disangko tali-tali. Itu lagu. Ini tali tali benaaran. Bukan lagu, lho.
Patang ndak disangko pagi hari. Ndak mabuk diuntung parasaian. Tetapi maju terus penuh kesadaran dengan self confidence nan tinggi.
Indahnya kalau di slow motion kan. Airnya merupakan air aqua. Bagai limpahan kaca. Tidak pernah kering. Menggemerincing bunyinya, Dengan indah melaju ke kerendah an aliran; penuh lekok liku yang dilaluinya.
“Qul araitum in ashbaha maaa u kum ghawran famayyak tiykum bimaa im mu’iyn" Katakanlah: “Terangkanlah kepada ku! Jika air kamu menjadi kering, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” [67 al- Mulk :30]
Tergerak hati ini untuk meninggalkan pondok. Nyeberang batang itu. Masuk parak. Mencari petai dan jengkol. Kami berdua menyeberang dengan masing lading panjang ditangan. Sayangnya tidak musim durian. Makan durian enak dan mengasyikkan. Jangan minum dulu saat makan durian. Hilang nanti nikmat durian.
Walau masuk parak tetapi selalu gagah. Penampilan rapi. Celana pendek. Barasiah. Kaus oblong. Rambut basega terus. Cuma ndak basitakom. Disaku jongkeh tetap ado.
Setelah menyeberang batang air dan masuk parak, tersentak diri ini. Sejarak + 10 meter disebelah kanan terlihat rumput hilalang yang panjang seakan bangun dari kerebahannya. Mata menatap terus kearah model hilalang yang demikian. Model rumput bangun seperti itu setelah bekas dilalui binatang. Tiba-tiba pandangan mata telanjang tertancap kearah anak harimau yang baru dilahirkan. Si kecil masih ter gea-gea karena lemahnya mengiring induknya. Sang induk, harimau Sumatera yang besar itu, berdiri menghadap kami. Tubuh ini terpaku rasanya. Menjadikan diri terpana. Terpana penuh syukur akibat melihat harimau besar itu memandang rasanya penuh sikap persahabat an. Ia memandang penuh tenang menghadap kami, tak hendak menerkam. Ia rupanya sayangi kami. Seakan sang raja hutan berkata: “Teruskan tugas - tugasmu dengan baik sesuai ketentuan Nya. Aku akan urus pula anakku sebaiknya. Selamat berjuang. Good-bye”. Sianak menyeruduk - nyeruduk menggea di bawah paha induknya. Subhanallah. Lahaula wala quwwata illa billah. La syarikalah lahulmulku wa lahulhamdu. Hasbiyallahu wa ni’mal wakil Maha Suci Engkau Ya Allah. Tiada daya dan kekuatan bagi kami, selain dari pada anugerah-Mu. Tiada sekutu Mu. Bagimu ke Maha Kuasaan dan segala puji. Hanyalah Engkau Pelindung kami.
Keterpakuan itu telah membuat lading tua ditangan jatuh sendiri ketanah.
Akhirnya kedua harimau Sumatera itu Berbalik dan Membelakang kami. Ia dan anaknya berjalan arah ke Timur parak itu, hutan balantara yang amat luas. Anaknya masih tergea-gea mengikuti nya. Rupanya, ia tak menggonggong anaknya di mulut, seperti a cat. Itu nampaknya merupakan satu latihan keterampilan, membuat si anak berkembang tegar dan kekar untuk persiapan hidup sebagai raja rimba di hutan balantara.
Maaa ashaa ba mim mushiibatin illaa bi idznillah Setiap musibah yang menimpa seseorang adalah dengan izin Allah. , wa may yu’mimbillahi yahdi qalbahuu Barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, wallaahu bi kulli syay in ‘aliim. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [64:11]
Kami ikuti dengan pandangan mata kepergian kedua makhluk Allah yang gontai jalannya itu sehabis pandangan mata, sehingga tak kelihatan lagi dipenghujung Timur sana. Alhamdulillah.
Kami kembali kepondok dengan segera dan kemudian menceritakan kejadian itu kepada rekan yang ada. Mereka berkometar: ia adalah raja rimba ini. Asal kita ndak takbur ia teman kita. Allah sayang pada kita.
Benar. Kasih sayang bukan hanya terbatas pada makhluk manusia saja, tetapi melampau ke seberang sana, ke seberang balantara hutan luas.
Bila tengah malam telah datang, di halaman pondok sering beberapa ekor macan tutul bermain. Kami tak pernah mengganggunya. Nyatanya juga kami tidak diganggu. Indah sekali rasanya ada rasa keterpautan tali kasih.
Mengenang peristiwa senada ini, saya selalu ingat mak. Doa beliau selalu mengiringi saya: “Bajalanlah kama sin, kok paralu, kuliliangi lah dunia. Nanjan lupo Allah. Dan jan sakali-kali mampasakutuan Allah jo sia juo”. [ Berjalanlah kemana saja bila perlu kelilingi lah dunia. Namun jangan lupa kepada Allah. Dan jangan mempersekutukan Allah dengan siapa jua ]. Benar-benar restu mak memberi kan ketenangan batin saya dalam melalui hidup dan kehidupan harian.
Ndak pernah punya cincong dengan mak. Beliau sangat menyayangi kami dengan penuh kelembutan. Banyak nian contoh simple yang beliau berikan. Yang orang saat ini lupa, mungkin.
Saat membeli, beliau tak mau memasuki tawaran orang. Kalau berkeinginan beliau tunggu penawar itu selesai. Baru beliau masuk. Melakukan tawaran. Begitu sample kesabaran yang direalisasikan.
Selesai membayar belian, beliau tak berlalu begitu saja. Tidak pula hanya sekedar mengucapkan terima kasih. Tetapi setelah penjual menyerahkan barang belian ke tangan mak, beliau mengucapkan : “ Tarimo kasih. Ambo bali sekian yo. Bakaralilahan awak. Semoga barakaik”. Maksudnya: “Terima kasih. Saya beli dengan harga yang sudah sama kita sepakati sebentar tadi, dengan keikhlasan. Semoga Allah memberikan berkah Nya kepada kita”.Indah nian ucapan itu, bukan? Tinggi sekali Nilai ajar beliau. Dan hasilnya? Kedua belah pihak senang. Penjual senang. Uang dagangan makin terkumpul. Dagangan nya laris. Membuat penjual makin bersemangat berdagang. Kalau pakai timbangan mudah-mudah an di ingat selalu Qs. 55 : 9 “ Wa aqiimuul wazna bilqisthi wa laa takhsiruul miizaan. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”. Sipembeli senang. Dengan gembira berlalu; maksud sampai. Yang dituju tercapai. Yang di amal pecah. Yang dijuluak rareh. Mah, yang dibeli udah terbawa pulang; untuk ditindak lanjuti.
Sekali pernah saya ditegur oleh “karek-an” diatas saya. Setelah membayar belian, saya hanya mengucapkan: “Terima Kasih”. Rupanya ia menyimak korenah saya saat membayar uang pada penjual.
“E ee kok lah lupo pngaja mak. Dibali sakian dan barakaik no maa?” Masih pacak bahasa Minangnya. Seperti waktu sekian puluh tahun dulu. Kecek nya menyentakkan saya. “O, iyo” Saya sadari. La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Saya telah mendzhalimi diri ini. Inni tubtu ilaika. Saya akui kekeliruan saya. Kelupaan. Itu dosa. War rujza fahjur Dan tinggalkan dosa [74:5]. Akhirnya saya ulang etika akad saya kepada penjual: “Tarimo Kasih yo tuan. Ambo bali sakian. Barakat handakno”. Tuan penjual membalas, sambil senyum: “Samo-samo, Guru”. Dan kami berlalu dengan penuh gembira. Leganya hati ini tiada terkira. Ada kak tuo mengingatkan. Ada yang menasehati. Wa tawaa shau bil haqq [103:3]
Lainnya, saat bicara, mak ndak pernah menyebut “den”. Den itu keras ungkapannya bagi beliau. Beliau menyebut panggilan diri : “mak”. Jangan kamu mencela dirimu sendiri [49:11]. “Ang”, pun tak pernah sebutan beliau pada anak-anak. Hanya menyebut nama panggilan kami masing-masing. Mungkin ang itu kasar rasanya bagi beliau, walau itu bahasa Minang padek untuk kata penunjuk diri: lelaki. [Qs.49 ayat 11: Janganlah kamu panggil memanggil dengan panggilan yang buruk].
Yang baik Ini saya turunkan pada Anak Didik di lima Sekolah Atas.
Saya tidak pula memakai kata panggil ang dan kau atau gau. Kecuali, illaa, disaat maarah sekali. Namun saya meminta maaf lebih dulu untuk menyebut kata “ang”. Kepada peserta didik sering saya menyampaikan bahwa bagusnya kata “denai” digunakan untuk sebutan diri bila mau memakai Bahasa Minang juga, dari pada kata aden atau den. Ya, badan denai. Senang juga mereka. Terutama anak wanita mempraktek kan setelah saya “denai” sambil berguman senyum. Kalau ndak mau, ya munculkan saja nama panggilan diri sendiri atau gunakan kata: “ambo”.
Kata aden dapat dipakai didaerah yang bukan Minang; untuk menunjukkan ciri khasnya diri; bahwa ia anak Minang. Realitanya, ada seorang anak muda di Batavia pada dirinya selalu memanggil aden dalam berbicara. Kalau kita ingin mencarinya dirantau itu, tanya saja pada orang dilingkungan tempat yang dicari bahwa mau anda mau ketemu dengan pak Aden, pasti ditunjukkan rekannya. Atau ditunjukkan oleh orang yang sering mendengar kata “aden” dirantau itu.
Lain lagi, seorang putera Minang yang marantau jauh ke balik bumi diujung sana. Ia memakai nama Den Larry. Itu asalnya dari: Aden Lari. Bagus juga. Tak payah pula mencarinya, bukan? Jadi ada spesifikasinya. Seperti spesifikasi orang mukmin kemudian berada di Padang Mahsyar. Semua orang disana hitam, lho. Jadi, bagaimana cara untuk membedakan mukmin tidaknya. Dikening nya ada nur. Ya, dipadang maha luas, semua orang hitam. Yang pakai tanda putih; insya Allah dapat syafa’at dari Rasul saw karena taat pada Allah dan mematuhi rasul Nya.
Untuk lelaki, kata ang menjadi angkau atau engkau. Dulu di zaman Governemen Belanda, orang pakai Engku ß engkau. Sound nya good. It sounds good. Engku Guru. Engku Kapalo. Kadang-kadang Angku. Angku Kapalo Nagari. Angku Damang. Kata Engku/ Angku sangat bermakna dan teladan. Kata Engku yang disandang Engku Guru, misalnya. Itu bukan main maknanya. Ia punya nilai moral. Punya contoh teladan. Engku Guru dulu punya panutan. Sebab ada yang dicontohnya. Perbuatannya. Seorang engku Guru pergi kesekolah. Setiap jam tujuh sepuluh, lewat dimuka kedai. Jam dua kurang seperempat, ia lewat pula saat pulang. Demikian, rutin. Itu contoh kecil. Kalau orang lagi asyik, tau-tau Engku Guru lewat siang. ”Eee., lah jam duo kurang saparampek pulo hari. Ndak tahu saja kita waktu sudah berlalu”, kata yang melihat Engku Guru lewat didepan kedai.
Disekolah Engku Guru mendidik. Tugasnya tidak sekedar mengajar anak sasian. Kini Guru mendidiknya kurang?
Waktu senggang, Guru dapat memberikan pendidikan keluarga. Misalnya menyampai kan tentang wanita agar mendapat pahala lebih, adalah dengan berbuat baik, meyediakan makan tersaji bagi lelaki yang baru pulang dari mesjid dihari Jum’at. Wanita kan bukan ke Masjid. Kewajiban itu bagi lelaki. Dua rakaat pelaksanaan salatnya; seperti sembahyang subuh. Tetapi sebenar nya empat rakaat. Dua dipakai khatib dengan dua fase khutbah. Khutbah pertama. Dibatasi dengan duduk sejenak dan dilanjutkan dengan khutbah kedua. Yang ditutup oleh khatib dengan doa sebagai rukun khotbah nya. Kewajiban makmum hanya mendengarkan Bukan meng amin kan. Tak ada lain dari itu. Tidak boleh berbicara. Harus selalu diam. Harus konsentrasi pada isi khotbah. Itu ajaran. Menyuruh rekan sebelah menyebelah diam, itu berarti merusak Jum’atan diri.
Saat mengikuti khotbah inilah yang berat. Saat menerima pengajaran mengenai uraian ayat Tuhan, setan bermain. Setan mengipas jemaah supaya terbuai. Isi khotbah menjadi ndak jelas. Pesan khatib jadinya tak terekam dipikiran. Ada yang goyang-goyang badan kiri kanan, saat itu. Terbuai.Yaa!
Ada yang terkulai. Ada yang pegang sabih.
Setan mengelus embus. “Ndak usah kau dengar khotbah. Tidurlah kau, tidurlah.
Yang benar - benar mendengarkan khotbah dengan penuh konsentrasi, waktu pulang lemes badannya. Letih. Yang terayu setan, besar lonjaknya. Dan bermacam pencerminan sikap kepulangan masing Jamaah dari masjid.
Banyak lelaki, berangkat dari rumah pergi Jumatan. Sekembali Jum’atan terus kekedai Nasi. Makannya lahap. Ya lahap. Nikmat nya. Tandanya ia benar-benar dengar khutbah dengan baik. “Ondeh, lamakno makan pulang Juamat ko ee. Bapaluah awak dino”. Selesai makan dikedai ia pulang kerumah isterinya. Namun sebenarnya telah terjadi kesalahan:
- Sang isteri tidak terbiasa menyajikan makan bagi suami pulang Jumatan .
- Sang isteri, anak perempuan dirumah itu tak pandai memasak atau tak mengetahui betapa letihnya lelaki pulang dari Jumat.
- Ia telah makan enak sendirian. Anak lelakinya?
So, indahnya pilinan tali cinta kasih sayang bila pulang dari masjid. Anak lelaki dan papanya terjamu sekali oleh ibu atau Saudara perempuan dengan makan siang. Dan makan bersama di ruang makan. Lauk pauknya tak perlu yang istimewa. Tetapi sajikan apa saja makan ke sukaannya. Sajian model begitu pasti lebih menguntungkan, bukan ?
Mengenai Jumat perlu ada jemputan untuk diingat dan menjadikan perhatian, bila lupa:
Hari Jumaat, al Jumu’ah trambildari kata al-Jam’u; artinya berkumpul. Pemeluk Ilam brkumpul dihari itu, skali seminggu, ditempat-tempat peribadatan besar. Ia adalah hari agung umat lslam. Ini mendahului hari Yahudi, Sabtu dan hari Nasrani, Minggu. Yang benar Jum’atnya, selamat timbangan nya untuk satu minggu; seperti yang benar Ramadhannya selamat timbangan tahunnya; dan begitu pula, yang benar hajinya selamat timbangan umurnya.
Di hari Jum’at Adam diciptakan Allah, dimasukkan ke sorga, disuruh turun kebumi. Di hari itu kebaikan kepada seorang mukmin diberi Nya, bila pemohonan yang sungguh berkenan titik temunya.
Karenanya Jum’at harus dimanfatkan dengan sebaik-baiknya untuk :
- membaca surat al Kahfi
- memperbanyak selawat bagi Nabi saw
- memperbanyak doa
- mandi, menggosok gigi, memotong kuku
- memakai pakaian paling bagus
- memakai minyak wangi
- segera ke mesjid, berjalan
- mengisi shaf terdepan
- tidak melangkahi pundak orang
- tidak lewat didepan orang salat
- salat sunnah
- berzikir, istighfar, doa tanpa mengganggu
- memperhatikan khutbah dengan sungguh
- bila terlambat salat sunnah dilakukan
- setelah salat jum’at salat sunah 4 rakaat di mesjid; bila di rumah 2 rakaat
Kembali kepada hal sebelumnya. Banyak lagi samples. Ya, mungkin spele kemunculannya. Tetapi punya makna hakiki. Punya pesan moral. Model ini perlu dikaji ulang .“ Yang baik itu adalah baik adanya”. Yang baik diniatkan saja sudah ada pahalanya satu. Dikerjakan pahalanya sepuluh, Nikmat, kan?
Yang baik-baik yang mempunyai contoh teladan, sudah banyak kini yang dilupakan. Hilangnya, memunculkan yang baru yang yang merusak keteladanan. Seperti pusat disumburkan, di budurkan. Apakah itu bukan dampak tipu daya dari sisetan terkutuk? Disuruhnya kamu-kamu menampakkan, membudurkan pusarmu dengan pakaian, yang kata setan hasil perancang model di zaman milineum. Membudurkan pusar pada audiences, kepada pemirsa dan atau memperlihatkan sepertiga telanjang bagian badan mulai dari bahu ke bawah. Tidakkah itu termasuk memperlihat kan aurat? Bukankah itu kesenangan setan? Agama manapun melarang, tidak menyukai ini. Ingat: Setan telah membuluskan pakaian moyang kita, Adam dan Hawa, sehingga auratnya kelihatan. Akibatnya moyang terusir segera. Adam dan Hawa adalah moyang dari berbagai penganut agama dimuka bumi ini, bukan? Moyang dulu, kini dan yang akan datang. Moyang sampai turunan lahir terakhir.
Alhamdulillah, ditegur oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mudah-mudahan ada tindak lanjut didiri manusia yang sadar penuh iman sehingga terjadi pembenaran.
Perlu ada tali kasih sayang dijalin ulang. Harimau saja sama insan punya tali sayang. Harimau lapar lagi. Ia telah menghadapi santapan enak. Namun si Raja hutan: Berbalik Membelakang. Membelakangi dua sajian yang bisa dinikmatinya dengan lahap dan gurih bagi anaknya. Ini pesan tersembunyi. Kini sesama insan kok lain. Macam-macam saja yang terjadi setiap detik yang kita alami. Sesudah sembahyang zohor berjamaah lagi.
Seorang Hajah dibunuh. Dirumahnya sendiri. Di kamar mandinya. Yang dibunuh, jelas sorga baginya. Yang membunuh: jelas naraka. Dosa. Allah memerintahkan : Dan tinggalkan dosa. Namun Setan tak putus merayu: “Kerjakan dosa”. Hilanglah kesadaran pelaku. Pasti jawabnya di kantor polisi : “Saya tak sadar waktu itu, Pak”. “Saya kalap, pak”. “Kalap pak”. Pak,pak. Pak pak, ia menjawab saat diinterogasi. Ia telah berbuat dosa besar. Rumah orang rapi diberantakan. Barangnya diambil. Orangnya dibunuh. Keterlaluuan!!. Ndak cukup barang aaje rupanye.
Cerita seorang anak perempuan almarhumah yang sedang bermukena, menurut tetangga, kemarin ibunya memandang kearah pusara ditepi panorama ngarai nan indah itu. Dekat rumahnya. Dirasa ibunya orang akan ramai disana. Apa yang akan terjadi. Disaat kiamatnya datang ibunya masih “menabur benih menamam pohon dan merekat tali silaturrahmi”. Itu merupakan sikap dan kunjungannya terakhir sebelum menerima kehadiran “datang tiada penghalang”. Indahnya perbuatan beliau. Ia masih sempat mempersiapkan perekatan diri. Jika kiamat datang, sementara ditangan mu ada biji palam lalu kamu masih mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum kiamat itu terjadi. Hendaklah kamu menanamkannya. Dengan demikian kamu akan mendapatkan pahala. Semoga hurun ‘iyn menyambut kehadiran ibunda mereka tercinta. Innalillahi ma akhadza.
Anak-anak reda kepergian ibunya, melihat fakta salat jenazah sampai keluar mesjid. Namun mereka tak reda dengan pembunuh.
Itulah ayat Allah. Biidznillah. So, Harus reda. Sebab kalau tak terjadi event itu tentu tidak semeruah itu shalat jenazah buat ibundanya. Bisa separonya. Mungkin tidak semua anak sekali gus dapat pulang. Semua sudah punya I’tibar. Punya makna bagi yang tinggal. Allah Maha Tahu dengan pembunuh. Polisilah yang menyidik pelakunya, sebab hukum harus ditegakkan, bukan?
Dari event ini bisa diambil pula maknanya berkaitan dengan adanya “hari-hari Allah” [ayyaamallaah] the Days of Allah “bagi Nya memberi balasan” [liyajziya] that He may recompense [45 al Jasiyah : 14]. So, Allah akan memberikan balasan pada hari Nya terhadap perbuatan yang dilakukan. Karenanya, bila ada orang berbuat kesalahan maafkan ia. Pemberian maaf, agar di hati diri tidak terjadi bintik hitam. Lega/bersihkan diri.
Rabbanaa laa tuzigh quluu banaa ba’da idzhaday tanaa wa hab lanaa milladunka rahmah, innaka antal wahhaab. Ya Rabb kami. Janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan, setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi [ 3:8]
Rabbi j’alnii muqiimash shalawaati wa min dzurriyyatii. Ya Rab. Jadikanlah aku dan anak cucu ku tetap mendirikan salat, O Rabb! Make me and my descendants establish Salah Rabanaa taqabbal du’aaa i. Ya Rab. Kabulkanlah doa ku Our Rabb! Accept my prayer [14:40].
Rabbanaagh firliy Ya Rabb, ampunilah aku Our Rabb! forgive me, wa liwaalidayya dan ke dua Ibu Bapaku and my parents, wa lil mu’miniyna dan sekalian orang yang beriman and all believers, yauma yaquumu l hisaab pada hari dilakukan hisab, dihari kiamat on the Day when the accountability will take place [14:41].
Lubuak Pandalian Medio Agus 1960
Datang Tiada Penghalang - Petuah Luqman, as
Wa washshaynaal insaana biwaalidayhi hamalat hu ummuhuu wahnan ‘ala wahniw wa fishaaluhu fiy ‘aamayni anisykurliy wa liwaalidayka ilayyal mashiir [14] Dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu bapanya. Ibunya mengan dung dengan letih dan payah. Dan menyapih nya dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua ibu bapamu. Kepada Ku lah kamu kembali
Wa laa tusha’ ‘ir khaddaka linnaasi wa laa tamsyi fil ardhi marahaa innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuwr [18] Dan jangan congkak terhadap manusia. Jangan angkuh berjalan dimuka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Waqshid fiy masy-yika waghdhudh min shawtik inna ankaral ashwaati lashawtul hamiyr [ 19 ] Berjalan lah dengan wajar. Berbicaralah dengan lembut! Sesungguhnya suara yang amat buruk ada lah suara himar.
Bagi diri tentu untuk diamalkan dan disampai didikkan pula pada masing-masing anak cucu, supaya mereka:
- tidak mempersekutukan Allah SWT.
- memuliakan ibu bapa dan bersyukur kepada Allah
- memperhitungkan perbuatan; sekecil apapun
- mendirikan salat. Ber amar makruf nahi mungkar dan sabar terhadap musibah yang menimpa
- tidak congkak, tak angkuh dan tidak sombong apalagi membanggakan diri
- berjalan wajar dan berbicara lembut
Sekali lagi bawakan kepada diri petuah diatas. Sadarilah.
Wa laa takuu nuu kaal ladziyna nasuul laaha Janganlah kamu seperti orang yang melupakan Allah Be not like those who forgot Allah fa ansaahum anfusahum maka Allah melupakan diri sendiri as a result Allah caused them to forget themselves Ulaaa ika humul faasiquun itu fasik it is they who are the transgressors [59 : 19]. OK. Bersegera lah kepada Allah. Jangan Allah sampai lupa kelak.
Hadap kanlah dirimu karena Allah ke Mesjidil Haram dimana saja kamu berada. Bukan karena siapa-siapa. Berwuduk dulu dengan sempurna. Wuduk sempurna memancarkan wajah berkemilau putih di Yaumil Mahsyar ; sebagai pembeda bagi pengikut Rasul SAW. Hadap kiblat : Allahu Akbar. Diri kecil. Allah Maha Besar. Rukuk: Subhana rabbiyal ‘azhiim. Ia Maha Agung. Bersujud: Subhaana rabbi al a’laa. Diri ini amat sangat rendah. Gunakan kesempatan sebaiknya untuk berdoa kepada Nya.
Salam mengakhiri kewajiban shalat. Saat mengucapkan salam “jangan memberi isyarat dengan tangan”. Rasul saw : Apa maksud kalian memberi isyarat dengan tangan seperti ekor kuda kepanasan. Bila mengucapkan salam, melihat lah kepada yang diucapkan salam tanpa memberi isyarat dengan tangan.
Itulah amal dari sisi Bawah yang tidak ada gangguan setan. Janji setan hanya empat sisi.
Atas. Pintu berdoa terbuka. Kapan saja. Kapan dan dimana saja berada memohonlah kepada Allah. Binalah selalu hubungan bersaudara. Hubungan berkeluarga; setelah hubungan diri dengan Nya. Banyak orang dalam mendayung hidup dan kehidupan sanggup mengental diri dengan orang lain. Hubungan bersaudara dan berkeluarganya retak. Bahkan terkoyak. Sangat ironis, bukan? Jauhilah itu semua. Rekat selalu hubungan persaudaraan dan kekeluargaan. Bagaimana pun keadaannya, ingatlah bahwa talinya satu.
Allaahumma, allif baina quluubi naa Ya Allah timbulkan lah kasih sayang dihati kami, wa ashlih dzaata baini naa timbulkanlah kedamaian diantara kami, wahdi naa subulus salaam, bimbinglah kami dijalan keselamatan wa najji naa minazh zhulumaati ilannuur lepaskanlah kami dari ke gelapan ke cahaya benderang, wa jannibnaal fawaa hisya maa zhahara minhaa lepaskan lah kami dari segala kekeji an lahir wama bathan dan batin. Allahumma baarik lanaa fii asmaa‘i naa Ya Allah, berkatilah kami pada pendengaran kami wa abshaari naa penglihatan kami, wa quluubi naa hati kami , wa azwaaji naa isteri kami wa ikhwani na sdr kami wa dzurriyyati naa keturunan kami wa tub ‘alai naa dan tobat kami. Innaka antat tawwa burrahiim. Sungguh Engkau Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang. Allahummaj ’alnaa syaa kiriina lini’ matika mutsnii na bihaa ‘alaika wa a timmahaa ‘alainaa. Ya Allah. Jadikan lah kami orang yang selalu mensyukuri nikmat Mu. Memuji Mu. Sempurna kanlah nikmat Mu atas kami [HR.A.Daud].
Rabbanaaa afrigh ‘alainaa shabran Yaa Rab kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami Our Rabb! Fill our hearts with steadfastness wa tsabbit aqdaamanaa dan kokohkanlah pendirian kami make our steps firm wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriyn dan tolonglah kami atas orang orang yang kafir and help us ( give us victory) against the unbelievers [2 : 250]
Faa’tabiruu Maka jadikanlah peristiwa itu pelajaran So learn a lesson from this example! yaaa wulil abshaar hai orang yang mempunyai pandangan (ke akhirat) O the people of insight [59 al Hasyr: 2].
Berilah mereka
Peringatan akan hari yang dekat [ Q: 40 Al Mukmin 18 ]
Minggu, 01 Februari 2009
Datang Tiada Penghalang - Selamatkan
Takutlah kepada Allah. Patuhi ketentuan Allah bila mau selamat. Selamat dihari tiada akhir. Sekali lagi selamatkan diri. Camkan diri. Obey Allah and His Rasool.saw
Faad ’ullaaha Serulah Allah saja So invoke Allah mukhlishiyna lahuddiina dengan beribadah ikhlas hanya kepada Nya with sincere devotion to Him (whorship none but Him) wa lau karihal kafiruun walau si kapir tak menyukainya however much the un believers may dislike it [al Mukmin:14].
Perlu disitir kembali apa yang diperingatkan Allah kepada kita semua: “Yaa baniyy aadama laa yaftinannakumusy syaythaanu kamaaa akhraja abawaykum minaljannati yanzi’u ‘anhumaa libaa sahumaa liyuriya humaa saw aatihimaa innahuu yaraakum huwa wa qabii luhuu min haytsu laa taraw nahum innaa ja’alnaasy syayaathiyna awliyaaa a lilladziyna laa yukminuun” Hai Anak Adam. Janganlah kamu dapat ditipu setan Ia telah mengeluarkan ibu bapakmu dari syorga. Dicabutnya pakaian keduanya agar ia memperlihatkan aurat mereka. Sesungguh ia dan kroninya melihat mu. Kamu tak melihat mereka. Sungguh Kami menjadikan setan pimpinan bagi yang tidak beriman [7:27]
Mari dipilah ayat diatas [A’raf: 27]
- Yang diseru Allah anak Adam. So semuanya, termasuk anda yang membaca.
- Jangan kamu dapat ditipu setan. Ini butuh kesadaran. Kesadaran pegang peranan; top one. Alhamdulillah kita diingatkan!
- Setan mengeluarkan ibu bapakmu dari sorga. Ini gambaran manusia mudah diperdaya. Mudah digoda. Mudah kena tipu daya. So, haati hati dengan case ini.
- Dicabutnya pakaian keduanya. Ditelanjangi nya nenek moyang semua kita. (Mkb: Ditanggaino sarawa nenek moyang awak) Ia permalukan manusia. Ndak ado malu nan samalu tuu doh. Setan yang suka membuka aib orang. Manusia bersetan juga. Itu kelihaian setan dalam berbuat. So, itu sebabnya setan telah menjadi musuh bebuyutan semua kita.
- Agar ia memperlihatkan aurat mereka. Jadi ini peringatan keras. Supaya aurat tidak terbuka sembarangan. Sekarang hal ini yang sangat mengerikan. Sangat memalukan. Ikut mode? Waw !!!
- Ia dan kroninya melihat kamu. Setan makhluk halus. Ia melihat manusia. Kroninya, manusia yang kesetanan melihat juga. Mereka melihat celah dimana lawannya dapat dihantamnya dalam keadaan tidak mawas. So, mawas dirilah selalu. Waraabitu [3 : 200]. Mawas dirilah. Waspada lah terhadap setan agar jangan sampai terpedaya. Jangan sampai masuk perangkap setan; sehingga menjadi kesetanan
- Kemudian bagian ini untuk 43:62 [(:“Wa laa yashuddannakumusy syaithaan dan janganlah kamu dirintangi setan Let not shaitan mislead you innahuu lakum ‘aduw wummubiyn sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata for he is your open enemy]. Benar sekali, sesungguh nya setan itu musuhmu yang nyata. Jadi setan bukan kawan. Benar-benar lawan.
- So, amat bodoh sekali orang yang menjadikan setan sebagai kawan. Ia tak tau dan cuek terhadap peringatan Allah . Itulah orang yang hanya mementingkan dunia. Mati ia, habis perkara. Tutup buku. Hanya itulah manusianya.
- Manusia yang sadar tidak mau dirintangi setan. Senjata pamungkas nya? : Yaa kesadaran, mawas diri, berlindung hanya kepada Allah wahdah; tak pada yang lain.
- Hanya orang-orang yang sesat yang mau mengikuti setan; mengikuti jalan setan
Wa laa tulquw biaydiy kum ilattahlukah. Dan jangan ceburkan dirimu kedalam kebinasaan do not cast yourselves into destruction by your own hands. Wa ahsinuu Berbuat baiklah, Be charitable. innallaha yuhibbul muhsiniyn Allah mengasihi orang yang berbuat baik Allah loves those who are charitable [2:195]
Jadilah mukhlis (al mukhlashiyn) [38 : 83] & [15:40]
Inna ‘ibaadiy laisalaka ‘alaihim sulthaanun Sesungguhnya hamba-hambaku tidak akan ada dayamu (hai setan) untuk menyesatkan mereka you will not have any authority over My devotees illaa kecuali except manit taba’aka minalghaawiyn yang mau mengikutimu, yaitu yang sesat those misguided ones who follow you [15 : 42]
So, jangan ikuti setan. Renungkan isi 15:42. Selamatkan diri. Jelas Firman Allah diatas: manit taba’aka minalghaawiyn (a) yang mau mengikuti setan, yaitu orang yang sesat
Datang Tiada Penghalang - Bersyukurlah
Bagi yang baru memeluk Islam, ia sebelumnya dari keluarga non Islam. Kesyukurannya jelas lah amat sangat besar; karena ia sebetulnya telah menarik diri dari neraka tanpa peduli siapapun. Ia memisahkan diri dari keluarganya apa lagi ibu bapa yang dicintainya. Syukurilah. Orang-orang yang ditinggalkannya adalah kayu bakar di naraka. Dan ia sebagai mu’alaf siap untuk gigih di dalam agama Islam. “Jika kamu bersyukur, niscaya Dia meredai bagimu kesyukuran itu; therefore if you are grateful He is pleased with you [39:7]”. Namun, syetan sangat sangat marah sekali kepada sang mualaf ini; apa lagi ia grateful to Allah. “Hei fulan. Teganya kau meninggalkan agama nenek moyang kau. Padahal tuhan yang kau datangi di Islam hanya satu. Agama yang kau tinggalkan ini banyak tuhannya. Wah! Pandirnya kau bertuhan satu. Lagi pula kau meninggalkan keluarga kau yang menyayangi kau. Laaa, teganya kau”. Yaa, macamlah kakobeh rayuannya si setan kepada fulan.
Pemeluk Islam sungguh telah memenuhi firman Allah yang disampaikan kepada nabi-nabi yang akhirnya di patenkan dalam Al Quran kepada Rasul Nya, Muhammad saw. Perhatikan dalam Surah 28, Al Qashash dan dalam Surah 20, Thaahaa… “ ay yaa muusaaa inniii anaallahu rabbul ‘aalamiin ……: “Hai Musa, sesungguhnya Aku, Aku Allah, tuhan semesta Alam” [28 al Qashas: 30]. “Innaniiy anaallahu laaa ilaaha illaaa anaa fa’budniy wa aqimish shalaata lidzikriy. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Ku. It is Me; there is none worthy of worship except Me, so worship Me and establish Salah for My rememberance [20:14]”. Nah, bagaimana dengan pembenaran terhadap siapa Allah. Ini terdapat pada surah 114, al Ikhlash. Ia merupakan tauhid - the unique attribute of Allah; tauhid pengucapan. Sigi : tauhid pengamalan. Ini ada dalam Suratul Kaafiruun; berisi enam verses; merupakan “the commandement not to compromise in the matters of religion”.
- Tuhan mereka hanya Allah. Nama Allah difirmankan oleh Allah sendiri. Nama yang tak bisa diubah-ubah. Sudah punya kepatenan. Tidak ada lain nama. Tidak ada tawar menawar untuk merobah nama Maha Yang Suci ini. Nama yang dari Allah sendiri :
“innaniiy anaallahu laaa ilaaha illaaa anaa fa’budniy wa aqimish shalaata lidzikriy"
“Betul Aku ini adalah Allah. Tidak ada ilah selain Aku. Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat guna mengingat Ku”. Allah bukan god, bukan gusti, bukan pula yang berada ditempat antaran - antaran.
Yang merobah jelas kena denda. Triliun an? Bukan! Dendanya amat mengerikan. Rasakan sendiri semenjak kematian dilalui sampai pada hari tiada akhir lagi. - Allah mereka Esa. Satu. Wahid. Allah wahdah. Allah semata. Allah saja.
- Allah itu dambaan pemeluk Nya
- Dia tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan. Lam yalid wa lam yuulad
- Tidak ada yang setara dengan Nya
- Tak ada kompromi dalam penyembahan
- Mereka tak kenal kata lelah menyembah Allah subhanahu wa ta’ala setiap hari.
- Mereka mendambakan reda Nya.
- Mereka mempunyai the unique atribute of Allah dengan Suratul Ikhlas
- Mereka mempunyai the commandement not to compromise in the matter of religion dengan Suratul Kafiruun
Para malaikat pemikul a’rasy dan malaikat-malaikat yang berada di sekitarnya pun ikut mendoakan orang beriman yang gigih:
“Ya Rabb kami. Rahmat dan ilmu Mu mencakup segala sesuatu. Maka ampunilah orang-orang yang tobat dan mengikuti jalan Engkau. Peliharalah mereka dari siksa naraka yang menyala. Ya Rabb kami. Masukkan lah mereka kesorga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka; juga kepada orang-orang yang baik dari Bapak-bapak mereka, isteri-isteri mereka dan anak cucu mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jauhkan lah mereka dari resiko perbuatan buruk. Dan orang yang Engkau pelihara ( hindarkan dari pembalasan) kejahatan pada hari itu. Sesungguhnya Engkau telah memberi Rahmat kepada Nya. Dan itulah kemenangan yang besar pada hari itu . [40 al Mukmin / al Ghaafiriin 7-9]
Diharapkan diakhir hidup, diri masih selalu dalam akhirul zikra. So, Waspadailah diri akan setan. [38 Shaad 75-85]. Lagi-lagi, jangan membiarkan setan masuk. Melalaikan diri untuk menyembah Nya, berarti telah membiarkan setan menguasai diri. Sadarlah dan sadarilah. Tidak disediakan setan masuk, ya setan pasti tidak masuk masuk. Selalu mengingat Allah, Ya setan jelas lari terbirit-biriiit. Jadiii…………
Datang Tiada Penghalang - Tempuhan
Datang Tiada Penghalang - Illustrasi
Tapak demi tapak Huriah menuju ke Airport Kemayoran, Selasa 10 Nopember 1971. Di Bandara Kemayoran Huriah jumpa dengan teman yang hendak sama pulang ke Padang. Ia lain pesawat. Teman pulang bertiket Merpati. Huriah pulang bertiket Garuda. Namun Dia yang memutuskan. Huriah yang menentukan. Dia telah memutuskan. Itulah event di Bandara Kemayoran pagi itu. Tiket Garuda yang dalam tas Huriah dikeluarkan. Ia menukarnya dengan tiket Merpati. “Kok ditukar?”. “Ya, Yah nak cepat sampai….., uda”. Pesawat Merpati meninggalkan landasan pacu. Saat itu masih di Kemayoran. Pulau Jawa mulai ditinggalkan. Ujung Sumatera kini dilayangi. Bermacam gambaran ada dibenak masing-masing. Pilot and co – pilot tengah sibuk dengan tugasnya memberikan layanan kenyamanan kliennya. Tidak lama lagi sampai... Saatnya memang tak lama lagi sampai di Tabing. Nama Bandara Sumatera Barat saat itu. Namun Comulonimbus dengan sediaan Nya segera menghadang. Lalu menerjang, membeleng, menggulung pesawat penuh berawak. Pilot kehilangan pandangannya. Merpati diputar Nya arahnya; bukan arah ke landasan menuju Bandara Tabing. Arah landasannya kini lain. Ditukar Nya tujuan ke Lautan luas. Merpati dilayangkan Nya bebas, lepas, kelautan luas. Dihempas tenggelamkan ke lautan sana, dekat pulau Katang-katang di arah Barat daerah Painan. Merpati dihilangkan. Ditelankan kedasar lautan. Arus bawah Samudera Hindia yang deras memberikan dampak yang tiada tara bagi team SAR. Team SAR akhirnya pasrah, menyerah kalah. Satu pesawat sarat muatan, terdiri dari: pilot, co – pilot and stewardeses serta passangers yang didalamnya hilang ditanamkan ke lautan dalam. Huriah sampai. Sampainya ketitik destinasi. Masing-masing diri saat itu, ketika nyawa sampai di kerongkongan, masing diri melihat eventnya. Melihat sampai kedetik titik akhir hidup dunia yang dilaluinya. Huriah dipanggil Nya. Ia kembali kepada Nya. Innalillaahi ma akhaza. Milik Nya yang diambilnya. Dan satu benda bernama pesawat terbang Merpati milik maskapai Penerbangan, ada dibawah kuasa Nya. Tiada yang berkuasa selain Dia. Dia yang menempatkannya di dasar lautan Hindia bersama manusia yang dijadikan Nya. Tak ada tanda pasti di area mana pesawat dan semua jenazah manusia ditempatkan Nya.
Dalam sad event 10 Nopember itu, tiga pemegang tickets Merpati ada yang tidak ikut bersama ke dasar lautan. Orang pertama, yang menyerahkan tiket Merpati kepada Huriah. Ia menerima tukaran tiket Garuda. Dan pulang ke Padang dengan pesawat Garuda memakai ticket yang bertuliskan nama Mrs.Huriah Adam. Jakarta – Padang. Dia diselamatkan Nya sampai ke tempat yang dituju. Maaa ashaa ba mim mushiibatin illaaa bi idznillaah Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali izin Allah [65 : 11].
Orang kedua, benar-benar pemegang ticket Merpati. Hudan dari Yang Maha Kuasa. Kepulangannya lewat Bandara Tabing dengan penerbangan Merpati pada hari itu tidak jadi. Ia mengkenselnya. Pengganti dirinya, surat kilat khusus. Surat yang ditulis khusus untuk isteri tercinta. Dikirim secara khusus. Kilat Khusus. Dan Dia yang memutuskannya. Diputuskan Nya bahwa surat itu harus ikut berkubur dengan ribuan surat dalam post zags untuk arah Padang. Jelas, kilat khusus tidak akan pernah diterima addresser tercinta.
Orang ketiga, yang trauma untuk naik pesawat ia pulang dengan jalan darat kekampung halamannya. Demikian cerita opung
Subhanallaahi ‘amma yusyrikuun
Wa lahu ma a’thaitha. Kepunyaan Nya yang diberi Nya. Ia memberinya sampai limitasi nya. Bukan pada 10 Nopember 1971 itu.
Alhamdulillahi ‘adada ma khalaqa fis samawati. Ahamdulillahi ‘adada ma khalaqa fil ardhi.
Lagi lagi, kepunyaan Nya yang diberikan Nya Milik Nya yang diambil Nya
Ia, datang untuk semua. Tanpa pilih kasih
So, Siapkan diri
Nan jaleh
Mumbang jatuah
Kalapo no pun badambin
Dakek an bana-banaa diri slalu
ka nan Aso
Kok
Luko jaan manyiuak
Sainggo
kok tibo nan bak nantun
tibo mati ndak manyasa
Patunjuak Rasua paciak arek-arek
Nan Shalat jaan dilalaian
Lengonglah kepada events lain, datang tiada penghalang. Banyak yang terjadi dan akan terjadi diluar jangkauan nalar insan. Ambillah i’tibar semua kejadian itu.
Ada yang duduk lagi nyupir di perjalanan panjang. Tiba-tiba supir menghentikan jalan mobil tiba-tiba. Stir tetap dipegang. Mesin masih hidup “Lho. Kenapa kok tiba-tiba berhenti, pir?”. “Ada yang mau naik, Bu!”. “Mana orangnya?” “Kami tidak melihatnya!” “Itu dia, Bu. Ia ingin bersama kita!”.“Demi Allah kami tidak melihatnya”. Tiba-tiba kepala sopir, tertekur ke stir nya. Diam penuh ketenangan. Tenang damai dia untuk selama-lamanya. Innaalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Seorang pilot yang sedang menerbangkan pesawat dengan ketinggian sekian ribu kaki dari bumi, event model ini pun terjadi. Ia datang. Tiada penghalangnya. Tiada penahan. Mesti patuh. La hawla walaqu wata illa billah
Bila ajal datang waktunya, mereka tidak kan dapat mengundurkannya walau sesaat pun. Tidak pula memajukannya [ 7 A’raf 34]
Ada yang terjungkal dari mobil, saat peti mati dibawa untuk prosesi penguburan jenazah yang sedang menunggu dirumah duka.
Truck terbuka membawa peti mati. Di dalam peti ada kain. Tanpa setahu supir, seorang nyebeng aaje dibelakangnya. Diperjalanan turun hujan. Guna menghindari kuyupan hujan, singebeng masuk peti. Tiada lama, seizin sopir, menompanglah seorang yang kehujanan. Ia naik di belakang. Truk melaju. Tiba-tiba, yang dalam peti mati menjulurkan tangannya keluar peti, berbungkus kain putih pembungkusnya. Ia ingin tahu, masih hujan kah atau tidak. Penompang yang baru naik terkejut. Disangka mayat hidup, menjulurkan tangannya. Keterambungannya akibat ia terkejut, membuatnya terjungkal. Terhempas ke asphal beton. Mati? Yaa! Ia mati seketika.
Segala sesuatu sesuai dengan qadha’ dan qadarnya. Kematian itu adalah sebaik-baik pelajaran bagi diri yang belum mati.
Jadi setiap saat kematian mendekat. Dunia makin ditinggalkan. Sampai, Datang Tiada Penghalang.
Siaplah jadi anak-anak akhirat. Hari ini beramal, tak ada hari berhisab. Esok dihisab, tak lagi ada untuk beramal. Ada hanya amal. Amal yang menemani diri ini. Amal nanti yang akan berbicara.
Setiap diri akan dimintai pertanggungan jawab; walau sebesar zarah pun [ ]. Tsumma latus alunna yauma idzin ‘anin na’im (a) Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan ketika didunia) on that Day you shall be questioned about the blessing (facilities and resources that you were given in the worldly life – as to how you use them ?) [102 At Takaatsur : 8]. Fa may ya’mal mits qaala dzarratin khairay yarah (u) Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat Zarahpun, pasti akan melihat (balasan) nya Then, whoever has done an atom’s weight of good shall see it there [99:7]. Wa may ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (u) Dan yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, pasti akan melihat pula (balasan) and whoever has done an atom’s weight of evil shall see it there [Az zilzal : 8]
No bearer of a burden will bear another’s burden Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. And if a heavy laden person cries out for help, none will come forward to share the least of his burden, eventhough he be a close relative Dan jika seorang yang berat dosanya, memanggil (lainnya) untuk memikul dosanya, tidaklah akan dipikul sedikitpun, meskipun ia kerabatnya [35 Faathir:18 ]
Datang Tiada Penghalang - Jadinya?
Datang Tiada Penghalang - Menjauh
Setiap saat, kehidupan di permukaan bumi makin menjauh. Menjauh dari setiap individu yang menghuninya. Akhirnya meninggalkan diri penghuninya. Saat kehamilan, berarti kematian siap dihadapi. Saat kelahiran, berarti kematian siap menanti. Hari ini muda. Kemudaannya pasti hilang jua. Hari ini tua. Ketuaannya pasti hancur pula. Hancurnya akibat kematian yang pasti . Langkah demi langkah ditapakkan. Tapak demi tapak maju. Kokoh. Kurang. Takkan lagi tertapakkan. Layu [letai:Mkb] menuju kematian. Hari-hari makin berkurang. Jam demi jam pun makin berkurang - bukan tambah kurang - dibuatnya. Akhirnya detik-demi detik. Detik terakhir ada di penungguan. Dot. Dengan berbagai events yang akan terjadi. Itu Pasti bagi setiap diri. Keras. Lunak. Damai. Seram. Hempasan. Hentakan. Bantingan. Antukan. Gantungan. Tusuk-tusukan. Mengerikan. Yaah, bermacam ragam. Ada yang di pembaringan. Di pembaringan, diri ini makin lemah. Melemah makin lunglai. Lunglai; Fa lau laaa idzaa balaghatil hulquum (a) maka mengapa saat nyawa sampai dikerongkongan [56:83]. Wa antum hiina idin tanzhuruun (b) Pada hal ketika itu kamu melihat [waqiah :84] Camkan “Padahal ketika itu kamu melihat”. Kamu melihat dirimu sendiri bahwa diri pasti akan meninggalkan dunia fana ini, berpindah kealam berikutnya. Datangnya tiada penghalang. Perginya nyawa melayang. Tenang. Tenang. Kaku. OK, pikirkan hal ini. Apakah diri sudah siap? Dan apa yang telah disiapkan oleh diri ini ? Tanyai!