“Yok. Mari makan pagi. Semua sudah Ok”, kata bang Rid. O, ya. Mari kita nikmati. Bismillaah.. Allaahumma baarik lana fii maa razaqtanaa waqinaa adzaa bannar. Di Malaysia ini diucapkan bersama di meja makan. Pokoknya janganlah lupa. Begitu mengerikan azab naraka, kita dituntun untuk selalu mengucapkan doa. Semoga kita terhindar dari naraka. Allaahumma inni as aluka ridhaaka wal jannah wa a’u dzubika min sakhatika wan naar. Makan pagi pakai petai. Bermacam gaya penampilannya. Panggang. Rebus. Di uok an. Ya diatas nasi yang sudah mendidih hampir masak itu. Digoreng. Mentah. Di kalusuak anjakkan. Petai mentah itu oleh si Sadar dimasukkan dalam tungku. Dipanggang dan diputar-putar dalam abu panas tungku dapur itu. Tentu sampai maasak, dong. Kalau perlu, sedikit hangus. Eeenak. Itu kesenangan yang mengasikkan. Hasilnya? Wow!! Nikmatnya bukan main makan pagi kami. Baru taau, kan? Alhamdulillah. Barakallahuli wa lakum.
Pakai daun capello lagi. Cabenya lado kating. Orang di sana menyebutnya lado tonggeng. Ya, nikmat. Cuma daun singkong, olahannya tidak seperti olahan orang Batak. Tidak ditumbuk. Tak apa - apa. Tetapi ada yang istimewa di daerah ini. Daun singkong goreng yang disajikan waktu baralek, itu merupakan sambal adat katanya. Daerahnya didesa, saat itu calon, seorang besar pimpinan organisasi besar di tanah air ini.
O ya. Bicara sambal adat, banyak sekali kalau mau di munculkan. Pasti anda juga nantinya akan menambah kan ilustrasi ini: Kalau bagi kami disini, ini yang adat; seperti ini yang pernah saya alami. Pernah saya cicipi dan lain sebagainya sesuai fakta. Bermacam reaksi spontan yang anda munculkan. OK. Bagus! Bagus. Kumpulkanlah berbagai pengalaman. Itu menyenangkan, bukan? Setidaknya bagi diri sendiri, yang punya pengalaman hidup; yang semuanya menyenangi nikmat Nya.
Namun kali ini, cukup satu lagi. Gulainya kelihatan appierensnya enak sekali. Seperti kalio. Masakannya, ya, berselera. Menerbit kan air liur. Tetapi potongan dagingnya kok segi empat seperti kubus; dadu besar. “Itu jangan diambil”, bisik beliau kepada yang tergerak tangannya untuk menyentuh; setelah melihat tarikan piring kearah yang mau mencicipi. “Itu bukan kalio benaran, ndak sungguhan; tetapi siluman kayu”. “Dari kayu, lo?” “Ya, dari kayu. Kayunya besar. Ber iro, persis seperti iro daging”. Oi. Siapa nyana siapa menduga, kalau itu bukan kalio. So, berjalanlah dimuka bumi yang disediakan untukmu. Famsyuu fii manaa kibihaa [67:15]. Kamu tahu bagaimana kebesaran Allah. Kamu tahu akibat perbuatan tangan anak manusia sendiri. Merantau lah! Karatau madang diulu, babuah babungo balun.
Nikmatilah dengan penuh kesyukuran apa apa yang diberikan Allah kepadamu. Pasti kamu merasa bahagia, senang dan gembira. Allah sayang kepada hamba Nya. Dia Rahman. Fa biayyi ala irabbikuma tukadzdzibaan [31x dalam Ar Rahmaan, juz 27]
Tabaa rakasmu Rabbikaa dzil jalaali wal ikraam. Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Kehormatan [55:78]
Petai ini obat. Obat bagi siapa yang mau memikirkannya dan mengolahnya. Petai mentah yang matang nya bagus, yang baru dipetik, makan dengan kulit-kulit nya. Dari pengalaman: memperlancar jalannya air seni. Petai dimakan banyak, bagus. Apalagi petai sisa monyet yang sudah mengkecambah. Namun, ada petai ada jering. Ya,yaa. Jengkol. Jangan banyak memakan jengkol. Dapat mengganggu bagian belakang. Banyak me makan, dapat menimbulkan penyakit. Nama penyakit nya “dikabek jariang”. Wow. Sakitnya bukan main. Ya, bukan main. Bagi yang mengalami. Obatnya? Ada yang terjun masuk kolam. Mandi. Jangan! Itu menambah penyakit. Ambil air panas. Minum lah yang banyak. Dan kompres pinggang itu dengan air panas. Sampai kadar sakitnya turun.
Jam delapan main-main ditepi Batang Sami. Jaraknya hanya dua meter dari sendi pondok verdepping. Beniing – not beijing - sekali airnya. Menyenang dan menyejukkan diri saat bermain di air bening ini sambil mengayaukan kaki, dengan gembiranya. Lubuknya saja Lubuk pandalian. Matanya mata kucing. Airnya, wah sungguh bening. Kebeningannya memunculkan dasar kerikil halus dari bawahnya. Tali tali bermain menari-narikan bodies nya yang semampai panjang. Mereka bersama dengan ikan lainnya bermain penuh keceriaan. Bermain sebebas-bebasnya didalam kebeningan. Gemerincing bunyi air bening bila dikayaukan membuat hati semakin senang dan tenang. Udang disangko tali-tali. Itu lagu. Ini tali tali benaaran. Bukan lagu, lho.
Patang ndak disangko pagi hari. Ndak mabuk diuntung parasaian. Tetapi maju terus penuh kesadaran dengan self confidence nan tinggi.
Indahnya kalau di slow motion kan. Airnya merupakan air aqua. Bagai limpahan kaca. Tidak pernah kering. Menggemerincing bunyinya, Dengan indah melaju ke kerendah an aliran; penuh lekok liku yang dilaluinya.
“Qul araitum in ashbaha maaa u kum ghawran famayyak tiykum bimaa im mu’iyn" Katakanlah: “Terangkanlah kepada ku! Jika air kamu menjadi kering, siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” [67 al- Mulk :30]
Tergerak hati ini untuk meninggalkan pondok. Nyeberang batang itu. Masuk parak. Mencari petai dan jengkol. Kami berdua menyeberang dengan masing lading panjang ditangan. Sayangnya tidak musim durian. Makan durian enak dan mengasyikkan. Jangan minum dulu saat makan durian. Hilang nanti nikmat durian.
Walau masuk parak tetapi selalu gagah. Penampilan rapi. Celana pendek. Barasiah. Kaus oblong. Rambut basega terus. Cuma ndak basitakom. Disaku jongkeh tetap ado.
Setelah menyeberang batang air dan masuk parak, tersentak diri ini. Sejarak + 10 meter disebelah kanan terlihat rumput hilalang yang panjang seakan bangun dari kerebahannya. Mata menatap terus kearah model hilalang yang demikian. Model rumput bangun seperti itu setelah bekas dilalui binatang. Tiba-tiba pandangan mata telanjang tertancap kearah anak harimau yang baru dilahirkan. Si kecil masih ter gea-gea karena lemahnya mengiring induknya. Sang induk, harimau Sumatera yang besar itu, berdiri menghadap kami. Tubuh ini terpaku rasanya. Menjadikan diri terpana. Terpana penuh syukur akibat melihat harimau besar itu memandang rasanya penuh sikap persahabat an. Ia memandang penuh tenang menghadap kami, tak hendak menerkam. Ia rupanya sayangi kami. Seakan sang raja hutan berkata: “Teruskan tugas - tugasmu dengan baik sesuai ketentuan Nya. Aku akan urus pula anakku sebaiknya. Selamat berjuang. Good-bye”. Sianak menyeruduk - nyeruduk menggea di bawah paha induknya. Subhanallah. Lahaula wala quwwata illa billah. La syarikalah lahulmulku wa lahulhamdu. Hasbiyallahu wa ni’mal wakil Maha Suci Engkau Ya Allah. Tiada daya dan kekuatan bagi kami, selain dari pada anugerah-Mu. Tiada sekutu Mu. Bagimu ke Maha Kuasaan dan segala puji. Hanyalah Engkau Pelindung kami.
Keterpakuan itu telah membuat lading tua ditangan jatuh sendiri ketanah.
Akhirnya kedua harimau Sumatera itu Berbalik dan Membelakang kami. Ia dan anaknya berjalan arah ke Timur parak itu, hutan balantara yang amat luas. Anaknya masih tergea-gea mengikuti nya. Rupanya, ia tak menggonggong anaknya di mulut, seperti a cat. Itu nampaknya merupakan satu latihan keterampilan, membuat si anak berkembang tegar dan kekar untuk persiapan hidup sebagai raja rimba di hutan balantara.
Maaa ashaa ba mim mushiibatin illaa bi idznillah Setiap musibah yang menimpa seseorang adalah dengan izin Allah. , wa may yu’mimbillahi yahdi qalbahuu Barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, wallaahu bi kulli syay in ‘aliim. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [64:11]
Kami ikuti dengan pandangan mata kepergian kedua makhluk Allah yang gontai jalannya itu sehabis pandangan mata, sehingga tak kelihatan lagi dipenghujung Timur sana. Alhamdulillah.
Kami kembali kepondok dengan segera dan kemudian menceritakan kejadian itu kepada rekan yang ada. Mereka berkometar: ia adalah raja rimba ini. Asal kita ndak takbur ia teman kita. Allah sayang pada kita.
Benar. Kasih sayang bukan hanya terbatas pada makhluk manusia saja, tetapi melampau ke seberang sana, ke seberang balantara hutan luas.
Bila tengah malam telah datang, di halaman pondok sering beberapa ekor macan tutul bermain. Kami tak pernah mengganggunya. Nyatanya juga kami tidak diganggu. Indah sekali rasanya ada rasa keterpautan tali kasih.
Mengenang peristiwa senada ini, saya selalu ingat mak. Doa beliau selalu mengiringi saya: “Bajalanlah kama sin, kok paralu, kuliliangi lah dunia. Nanjan lupo Allah. Dan jan sakali-kali mampasakutuan Allah jo sia juo”. [ Berjalanlah kemana saja bila perlu kelilingi lah dunia. Namun jangan lupa kepada Allah. Dan jangan mempersekutukan Allah dengan siapa jua ]. Benar-benar restu mak memberi kan ketenangan batin saya dalam melalui hidup dan kehidupan harian.
Ndak pernah punya cincong dengan mak. Beliau sangat menyayangi kami dengan penuh kelembutan. Banyak nian contoh simple yang beliau berikan. Yang orang saat ini lupa, mungkin.
Saat membeli, beliau tak mau memasuki tawaran orang. Kalau berkeinginan beliau tunggu penawar itu selesai. Baru beliau masuk. Melakukan tawaran. Begitu sample kesabaran yang direalisasikan.
Selesai membayar belian, beliau tak berlalu begitu saja. Tidak pula hanya sekedar mengucapkan terima kasih. Tetapi setelah penjual menyerahkan barang belian ke tangan mak, beliau mengucapkan : “ Tarimo kasih. Ambo bali sekian yo. Bakaralilahan awak. Semoga barakaik”. Maksudnya: “Terima kasih. Saya beli dengan harga yang sudah sama kita sepakati sebentar tadi, dengan keikhlasan. Semoga Allah memberikan berkah Nya kepada kita”.Indah nian ucapan itu, bukan? Tinggi sekali Nilai ajar beliau. Dan hasilnya? Kedua belah pihak senang. Penjual senang. Uang dagangan makin terkumpul. Dagangan nya laris. Membuat penjual makin bersemangat berdagang. Kalau pakai timbangan mudah-mudah an di ingat selalu Qs. 55 : 9 “ Wa aqiimuul wazna bilqisthi wa laa takhsiruul miizaan. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu”. Sipembeli senang. Dengan gembira berlalu; maksud sampai. Yang dituju tercapai. Yang di amal pecah. Yang dijuluak rareh. Mah, yang dibeli udah terbawa pulang; untuk ditindak lanjuti.
Sekali pernah saya ditegur oleh “karek-an” diatas saya. Setelah membayar belian, saya hanya mengucapkan: “Terima Kasih”. Rupanya ia menyimak korenah saya saat membayar uang pada penjual.
“E ee kok lah lupo pngaja mak. Dibali sakian dan barakaik no maa?” Masih pacak bahasa Minangnya. Seperti waktu sekian puluh tahun dulu. Kecek nya menyentakkan saya. “O, iyo” Saya sadari. La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Saya telah mendzhalimi diri ini. Inni tubtu ilaika. Saya akui kekeliruan saya. Kelupaan. Itu dosa. War rujza fahjur Dan tinggalkan dosa [74:5]. Akhirnya saya ulang etika akad saya kepada penjual: “Tarimo Kasih yo tuan. Ambo bali sakian. Barakat handakno”. Tuan penjual membalas, sambil senyum: “Samo-samo, Guru”. Dan kami berlalu dengan penuh gembira. Leganya hati ini tiada terkira. Ada kak tuo mengingatkan. Ada yang menasehati. Wa tawaa shau bil haqq [103:3]
Lainnya, saat bicara, mak ndak pernah menyebut “den”. Den itu keras ungkapannya bagi beliau. Beliau menyebut panggilan diri : “mak”. Jangan kamu mencela dirimu sendiri [49:11]. “Ang”, pun tak pernah sebutan beliau pada anak-anak. Hanya menyebut nama panggilan kami masing-masing. Mungkin ang itu kasar rasanya bagi beliau, walau itu bahasa Minang padek untuk kata penunjuk diri: lelaki. [Qs.49 ayat 11: Janganlah kamu panggil memanggil dengan panggilan yang buruk].
Yang baik Ini saya turunkan pada Anak Didik di lima Sekolah Atas.
Saya tidak pula memakai kata panggil ang dan kau atau gau. Kecuali, illaa, disaat maarah sekali. Namun saya meminta maaf lebih dulu untuk menyebut kata “ang”. Kepada peserta didik sering saya menyampaikan bahwa bagusnya kata “denai” digunakan untuk sebutan diri bila mau memakai Bahasa Minang juga, dari pada kata aden atau den. Ya, badan denai. Senang juga mereka. Terutama anak wanita mempraktek kan setelah saya “denai” sambil berguman senyum. Kalau ndak mau, ya munculkan saja nama panggilan diri sendiri atau gunakan kata: “ambo”.
Kata aden dapat dipakai didaerah yang bukan Minang; untuk menunjukkan ciri khasnya diri; bahwa ia anak Minang. Realitanya, ada seorang anak muda di Batavia pada dirinya selalu memanggil aden dalam berbicara. Kalau kita ingin mencarinya dirantau itu, tanya saja pada orang dilingkungan tempat yang dicari bahwa mau anda mau ketemu dengan pak Aden, pasti ditunjukkan rekannya. Atau ditunjukkan oleh orang yang sering mendengar kata “aden” dirantau itu.
Lain lagi, seorang putera Minang yang marantau jauh ke balik bumi diujung sana. Ia memakai nama Den Larry. Itu asalnya dari: Aden Lari. Bagus juga. Tak payah pula mencarinya, bukan? Jadi ada spesifikasinya. Seperti spesifikasi orang mukmin kemudian berada di Padang Mahsyar. Semua orang disana hitam, lho. Jadi, bagaimana cara untuk membedakan mukmin tidaknya. Dikening nya ada nur. Ya, dipadang maha luas, semua orang hitam. Yang pakai tanda putih; insya Allah dapat syafa’at dari Rasul saw karena taat pada Allah dan mematuhi rasul Nya.
Untuk lelaki, kata ang menjadi angkau atau engkau. Dulu di zaman Governemen Belanda, orang pakai Engku ß engkau. Sound nya good. It sounds good. Engku Guru. Engku Kapalo. Kadang-kadang Angku. Angku Kapalo Nagari. Angku Damang. Kata Engku/ Angku sangat bermakna dan teladan. Kata Engku yang disandang Engku Guru, misalnya. Itu bukan main maknanya. Ia punya nilai moral. Punya contoh teladan. Engku Guru dulu punya panutan. Sebab ada yang dicontohnya. Perbuatannya. Seorang engku Guru pergi kesekolah. Setiap jam tujuh sepuluh, lewat dimuka kedai. Jam dua kurang seperempat, ia lewat pula saat pulang. Demikian, rutin. Itu contoh kecil. Kalau orang lagi asyik, tau-tau Engku Guru lewat siang. ”Eee., lah jam duo kurang saparampek pulo hari. Ndak tahu saja kita waktu sudah berlalu”, kata yang melihat Engku Guru lewat didepan kedai.
Disekolah Engku Guru mendidik. Tugasnya tidak sekedar mengajar anak sasian. Kini Guru mendidiknya kurang?
Waktu senggang, Guru dapat memberikan pendidikan keluarga. Misalnya menyampai kan tentang wanita agar mendapat pahala lebih, adalah dengan berbuat baik, meyediakan makan tersaji bagi lelaki yang baru pulang dari mesjid dihari Jum’at. Wanita kan bukan ke Masjid. Kewajiban itu bagi lelaki. Dua rakaat pelaksanaan salatnya; seperti sembahyang subuh. Tetapi sebenar nya empat rakaat. Dua dipakai khatib dengan dua fase khutbah. Khutbah pertama. Dibatasi dengan duduk sejenak dan dilanjutkan dengan khutbah kedua. Yang ditutup oleh khatib dengan doa sebagai rukun khotbah nya. Kewajiban makmum hanya mendengarkan Bukan meng amin kan. Tak ada lain dari itu. Tidak boleh berbicara. Harus selalu diam. Harus konsentrasi pada isi khotbah. Itu ajaran. Menyuruh rekan sebelah menyebelah diam, itu berarti merusak Jum’atan diri.
Saat mengikuti khotbah inilah yang berat. Saat menerima pengajaran mengenai uraian ayat Tuhan, setan bermain. Setan mengipas jemaah supaya terbuai. Isi khotbah menjadi ndak jelas. Pesan khatib jadinya tak terekam dipikiran. Ada yang goyang-goyang badan kiri kanan, saat itu. Terbuai.Yaa!
Ada yang terkulai. Ada yang pegang sabih.
Setan mengelus embus. “Ndak usah kau dengar khotbah. Tidurlah kau, tidurlah.
Yang benar - benar mendengarkan khotbah dengan penuh konsentrasi, waktu pulang lemes badannya. Letih. Yang terayu setan, besar lonjaknya. Dan bermacam pencerminan sikap kepulangan masing Jamaah dari masjid.
Banyak lelaki, berangkat dari rumah pergi Jumatan. Sekembali Jum’atan terus kekedai Nasi. Makannya lahap. Ya lahap. Nikmat nya. Tandanya ia benar-benar dengar khutbah dengan baik. “Ondeh, lamakno makan pulang Juamat ko ee. Bapaluah awak dino”. Selesai makan dikedai ia pulang kerumah isterinya. Namun sebenarnya telah terjadi kesalahan:
- Sang isteri tidak terbiasa menyajikan makan bagi suami pulang Jumatan .
- Sang isteri, anak perempuan dirumah itu tak pandai memasak atau tak mengetahui betapa letihnya lelaki pulang dari Jumat.
- Ia telah makan enak sendirian. Anak lelakinya?
So, indahnya pilinan tali cinta kasih sayang bila pulang dari masjid. Anak lelaki dan papanya terjamu sekali oleh ibu atau Saudara perempuan dengan makan siang. Dan makan bersama di ruang makan. Lauk pauknya tak perlu yang istimewa. Tetapi sajikan apa saja makan ke sukaannya. Sajian model begitu pasti lebih menguntungkan, bukan ?
Mengenai Jumat perlu ada jemputan untuk diingat dan menjadikan perhatian, bila lupa:
Hari Jumaat, al Jumu’ah trambildari kata al-Jam’u; artinya berkumpul. Pemeluk Ilam brkumpul dihari itu, skali seminggu, ditempat-tempat peribadatan besar. Ia adalah hari agung umat lslam. Ini mendahului hari Yahudi, Sabtu dan hari Nasrani, Minggu. Yang benar Jum’atnya, selamat timbangan nya untuk satu minggu; seperti yang benar Ramadhannya selamat timbangan tahunnya; dan begitu pula, yang benar hajinya selamat timbangan umurnya.
Di hari Jum’at Adam diciptakan Allah, dimasukkan ke sorga, disuruh turun kebumi. Di hari itu kebaikan kepada seorang mukmin diberi Nya, bila pemohonan yang sungguh berkenan titik temunya.
Karenanya Jum’at harus dimanfatkan dengan sebaik-baiknya untuk :
- membaca surat al Kahfi
- memperbanyak selawat bagi Nabi saw
- memperbanyak doa
- mandi, menggosok gigi, memotong kuku
- memakai pakaian paling bagus
- memakai minyak wangi
- segera ke mesjid, berjalan
- mengisi shaf terdepan
- tidak melangkahi pundak orang
- tidak lewat didepan orang salat
- salat sunnah
- berzikir, istighfar, doa tanpa mengganggu
- memperhatikan khutbah dengan sungguh
- bila terlambat salat sunnah dilakukan
- setelah salat jum’at salat sunah 4 rakaat di mesjid; bila di rumah 2 rakaat
Kembali kepada hal sebelumnya. Banyak lagi samples. Ya, mungkin spele kemunculannya. Tetapi punya makna hakiki. Punya pesan moral. Model ini perlu dikaji ulang .“ Yang baik itu adalah baik adanya”. Yang baik diniatkan saja sudah ada pahalanya satu. Dikerjakan pahalanya sepuluh, Nikmat, kan?
Yang baik-baik yang mempunyai contoh teladan, sudah banyak kini yang dilupakan. Hilangnya, memunculkan yang baru yang yang merusak keteladanan. Seperti pusat disumburkan, di budurkan. Apakah itu bukan dampak tipu daya dari sisetan terkutuk? Disuruhnya kamu-kamu menampakkan, membudurkan pusarmu dengan pakaian, yang kata setan hasil perancang model di zaman milineum. Membudurkan pusar pada audiences, kepada pemirsa dan atau memperlihatkan sepertiga telanjang bagian badan mulai dari bahu ke bawah. Tidakkah itu termasuk memperlihat kan aurat? Bukankah itu kesenangan setan? Agama manapun melarang, tidak menyukai ini. Ingat: Setan telah membuluskan pakaian moyang kita, Adam dan Hawa, sehingga auratnya kelihatan. Akibatnya moyang terusir segera. Adam dan Hawa adalah moyang dari berbagai penganut agama dimuka bumi ini, bukan? Moyang dulu, kini dan yang akan datang. Moyang sampai turunan lahir terakhir.
Alhamdulillah, ditegur oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mudah-mudahan ada tindak lanjut didiri manusia yang sadar penuh iman sehingga terjadi pembenaran.
Perlu ada tali kasih sayang dijalin ulang. Harimau saja sama insan punya tali sayang. Harimau lapar lagi. Ia telah menghadapi santapan enak. Namun si Raja hutan: Berbalik Membelakang. Membelakangi dua sajian yang bisa dinikmatinya dengan lahap dan gurih bagi anaknya. Ini pesan tersembunyi. Kini sesama insan kok lain. Macam-macam saja yang terjadi setiap detik yang kita alami. Sesudah sembahyang zohor berjamaah lagi.
Seorang Hajah dibunuh. Dirumahnya sendiri. Di kamar mandinya. Yang dibunuh, jelas sorga baginya. Yang membunuh: jelas naraka. Dosa. Allah memerintahkan : Dan tinggalkan dosa. Namun Setan tak putus merayu: “Kerjakan dosa”. Hilanglah kesadaran pelaku. Pasti jawabnya di kantor polisi : “Saya tak sadar waktu itu, Pak”. “Saya kalap, pak”. “Kalap pak”. Pak,pak. Pak pak, ia menjawab saat diinterogasi. Ia telah berbuat dosa besar. Rumah orang rapi diberantakan. Barangnya diambil. Orangnya dibunuh. Keterlaluuan!!. Ndak cukup barang aaje rupanye.
Cerita seorang anak perempuan almarhumah yang sedang bermukena, menurut tetangga, kemarin ibunya memandang kearah pusara ditepi panorama ngarai nan indah itu. Dekat rumahnya. Dirasa ibunya orang akan ramai disana. Apa yang akan terjadi. Disaat kiamatnya datang ibunya masih “menabur benih menamam pohon dan merekat tali silaturrahmi”. Itu merupakan sikap dan kunjungannya terakhir sebelum menerima kehadiran “datang tiada penghalang”. Indahnya perbuatan beliau. Ia masih sempat mempersiapkan perekatan diri. Jika kiamat datang, sementara ditangan mu ada biji palam lalu kamu masih mempunyai kesempatan untuk menanamnya sebelum kiamat itu terjadi. Hendaklah kamu menanamkannya. Dengan demikian kamu akan mendapatkan pahala. Semoga hurun ‘iyn menyambut kehadiran ibunda mereka tercinta. Innalillahi ma akhadza.
Anak-anak reda kepergian ibunya, melihat fakta salat jenazah sampai keluar mesjid. Namun mereka tak reda dengan pembunuh.
Itulah ayat Allah. Biidznillah. So, Harus reda. Sebab kalau tak terjadi event itu tentu tidak semeruah itu shalat jenazah buat ibundanya. Bisa separonya. Mungkin tidak semua anak sekali gus dapat pulang. Semua sudah punya I’tibar. Punya makna bagi yang tinggal. Allah Maha Tahu dengan pembunuh. Polisilah yang menyidik pelakunya, sebab hukum harus ditegakkan, bukan?
Dari event ini bisa diambil pula maknanya berkaitan dengan adanya “hari-hari Allah” [ayyaamallaah] the Days of Allah “bagi Nya memberi balasan” [liyajziya] that He may recompense [45 al Jasiyah : 14]. So, Allah akan memberikan balasan pada hari Nya terhadap perbuatan yang dilakukan. Karenanya, bila ada orang berbuat kesalahan maafkan ia. Pemberian maaf, agar di hati diri tidak terjadi bintik hitam. Lega/bersihkan diri.
Rabbanaa laa tuzigh quluu banaa ba’da idzhaday tanaa wa hab lanaa milladunka rahmah, innaka antal wahhaab. Ya Rabb kami. Janganlah Engkau menjadikan hati kami condong kepada kesesatan, setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi [ 3:8]
Rabbi j’alnii muqiimash shalawaati wa min dzurriyyatii. Ya Rab. Jadikanlah aku dan anak cucu ku tetap mendirikan salat, O Rabb! Make me and my descendants establish Salah Rabanaa taqabbal du’aaa i. Ya Rab. Kabulkanlah doa ku Our Rabb! Accept my prayer [14:40].
Rabbanaagh firliy Ya Rabb, ampunilah aku Our Rabb! forgive me, wa liwaalidayya dan ke dua Ibu Bapaku and my parents, wa lil mu’miniyna dan sekalian orang yang beriman and all believers, yauma yaquumu l hisaab pada hari dilakukan hisab, dihari kiamat on the Day when the accountability will take place [14:41].
Lubuak Pandalian Medio Agus 1960
Tidak ada komentar:
Posting Komentar