Senin, 02 Februari 2009

Realisasi Nadzir

Dzaalika
yaumu ttaaghabun

Itulah
Hari Pembuktian
[ 64 At Taghaabun : 9 ]




Habit

Hidup itu, habit
Kebiasaan
Baik dan Buruk
Baik yang dikembangkan
Hasilnya paaasti baik.
Baik itu berbasis petunjuk Allah
Mbawa ketenangan dihati ini
Rupakan kecambah sorga didiri

Buruk dihebitkn
Ya, hasilnya jelas buuruk.
Smua merupakan goresan jadinya
Goresan buruk didiri
Dah doosa itu, kan ?
Kedamaian dan ketenangan batin
hilang jadinya
Buruk mula... tak apa-apa ahh kata si seetan
Lama-lama, ee numpuk sudah,
Ya Nyeesal
Dah Naraka itu jadinya
Sebelum terjadi nan bak nantun

Ati’ullaha wa ati’urrasuuluhu





Realisasi Nadzir
Nadzir sudah datang pada masing diri.
8,9 Richter dan Tsunami. Uban .Gigi . Penglihatan. Makan ditakar
.


Jum’at sore itu yang datang minta maaf beliaupun memaafkan. Beliaupun minta maaf, yang datang sama-sama memaafkan. Alhamdulillah. Saling memaafkan. Cerianya hati beliau dan semua yang melihat. Paginya Sabtu, saat bangun pagi, beliau tak bicara lagi. Lidah rupanya menjadi kalu. Yaa, kalu. Menjadi kalu. Ujung lidah sudah tertarik kekerongkongan. Tak bisa untuk bicara lagi. Air minum saja tidak dapat lagi melewati kerongkongan. Dimasukkan kemulut, ya masuk. Air menumpuk di dalam. Jangankan nasi yang akan liwat, airpun tidak.

Rupanya, inilah pintu tobat, bagi yang bersalah, tak bisa diterima lagi. Ya, bagaimana akan tobat. Bicara saja tak bisa lagi. Saat ini sudah amal yang bicara. Nunggu hari.Ya, menunggu hari bagi beliau. Lanjutnya, tentu diinfus.

Kamis jam 6.35 sore, terlihat tanda-tanda kepergian beliau. Tuntunan menghadapi maut dilaksanakan. Tak ada tanda komat komit di bibir. Jam 6.50 pm: “Ya Allah. Beliau dari pandangan kami orang baik-baik. Engkau perlihatkanlah bahwa yang baik itu hasilnya benar - benar baik”. Jam 7.00 pm bersin menggema dari mulut beliau, teriring ucapan : “Alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin”. Yang hadir secara otomatis menyambut ucapan itu dengan doa : “Yar hamukallaah” Semoga Allah mengasihimu. Selesai itu terdengar: “Asyhadu allaa ilaaha illallaaah wa asyhadu annamuhammadarrasulullah” dari mulut beliau. Beliau bersin lagi, dengan Alhamdulillaah. Otomatis kami berucap : “Yarhamukallah”. Kembali dari mulut beliau: Asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullaah. Bersin lagi, dengan iringan Alhamdulillah. Otomatis lagi kami : ”Yarhamukallaah” ~+an: “Yahdiykumul laahu wa yushlihu baa lakum". Semoga Allah memberikan hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu”~. Beliau akhirnya mengucapkan : “Asyhadu allaa ilaa ha illallaaah”, diiringi senyuman manis. Otomatis, beliau dicium”. “Alhamdu lillah, beliau sehat. Beliau sehat kembali”. Tapiii, tetapi yang berhadir sudah mengucapkan “Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun”. Mata ditutupkan. Infus segera dicabut. Selendang dipasangkan melilit dagu kepuncak kepala. Dan ndak percaya rasanya saat itu bahwa beliau sudah tiada. Kembali kepada Nya. Pergi nan takkan kembali lagi untuk selamanya. Innaalillaahi ma akhadza. Ya jiwa yang tenang, selamat kepada-Nya dengan senang. “Yaaa ayyatuhaan nafsul muthma innah” “Hai jiwa yang tenang!”: Wahai jiwa yang telah yakin kepada perkara yang haq dan tidak ada lagi perasaan syak. Engkau telah berpegang teguh kepada ketentuan- ketentuan syariat, sehingga tidak mudah terombang ambing oleh nafsu syahwat dan berbagai keinginan. “ O fully satisfied soul!” Irji’iiy ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyah” “Kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang puas lagi diredhai Nya” : Kembalilah kamu ke tempat terhormat di sisi Tuhanmu dan relakanlah amal perbuatanmu ketika hidup didunia dan engkau telah memperoleh keredhaan dari Nya. Sebab engkau tidak berlaku tamak pada kekayaan dan tidak berkecil hati serta mengeluh tatkala ditimpa kefakiran. Tiada keluh kesah yang pernah dimunculkan. Kamu tidak pernah melanggar ketentuan – ketentuan syariat di dalam mengambil hak – hakmu dan didalam menunaikan kewajibanmu “Return to your Rabb, well pleased with Him and well pleasing to Him”. [89 : 27-28].

Gembira hati melihat kepergian beliau, penuh kedamaian yang lembut lagi menyenangkan. Semoga beliau di masukkan ke dalam golongan hamba – hamba Allah yang shalihin dan mukramin. Daan bersenang – senang ditempat yang di janji Nya menikmati segala yang belum pernah terlihat dimata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah tergambar dalam hati seorang pun.

Seminggu setelah itu, dalam cacatan beliau yang bertulisan indah, tulisan orang dulu, tertera: “Lakukanlah yang baik-baik. Yang baik-baik dilakukan, bila masih ada orang marah, biarlah. Yang penting Allah sayang sama kita”. Realitanya, Allah memperlihat kan kesayangan dan kelembutan Nya pada saat beliau meninggalkan dunia fana ini. “Ya Allah, dari contoh ini, tuntunlah kami selalu. Jadikan kami dan turunan kami termasuk orang – orang yang berjiwa tenang, redha dan Engkau meredhai. Segala puji bagi Mu ya Allah, Rabb Semesta Alam dan salam serta salawat untuk Nabi kami, Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aamin Ya Rabbal ‘aalamiiyn”

Demikian Allah memperlihatkan ke Maha Besaran Nya. Dari lidah kalu, lidah yang tertarik ke kerongkongan yang kelihatannya bulat saja lagi, dari lidah ini dapat kembali menjadi pacak, lancar, fasieh dalam mengucapkan alhamdu lillaahi rabbil ‘alamiin dan asyhadu alla ilaha illaallaah wa asyhadu annaa muhammadarrasulullah.

Subhanallaah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah wahdah laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyiy wa yumiit wa huwa ‘ala kulliy syaiinqadiir wa atuubu ilaika ya Allahu Rahmaanur Rahiim.

Topan Nabi Nuh kita ketahui melalui Al Quran. Nabi Nuh as membuat perahu di bukit. Bagi penantang Nuh as ia dianggap tele waktu itu. Nah, inilah Noah sample fact reality di jaman mellineum. “Jadi”, maka “Jadilah”. Tak sulit bagi Allah berbuat sekehendak Nya. Kun fa Yakuun.

Sedang segar diingatan bagaimana dahsyat kejadian gempa berkala 8,9 Richter dan akibat yang timbul di tanah rencong Nangro Aceh Darussalam, Minggu dipagi 26 Desember 2005. Diiringi dengan Tsunami yang berdampak gelombang samudera. Juga ke Thailand, India dan Madagaskar di pantai Timur benua Afrika. Laju gelombang laut itu baru 900 kmph. Ferary Schumaker saja 350 kmph lajunya. Itu sudah yooong, joung, young bunyinya. Kencang sekali. Mengasikkan ditonton bagi pencandunya . Gelombang Tsunami, jelas laju banget. Tetapi, bukan mengasikkan. Bahkan, sebaliknya. Malahan. Sangat-sangat mengerii kan. Dihantarnya kapal apung besar dari Lautan Hindia ke kejauhan 6 km keatas daratan. Ribuan jenazah didoyong 8 km dari rumah mereka. Digantung gelimpangkannya ratusan tubuh diketinggian 9 meter lebih pada dinding tebing di Lhok Nga. Tsunami ini melibas segala apa yang menghalangi nya.Tanpa ampun. Saksikan hasil rekaman video amatir. Telanan korban 283.106 jiwa. Yang meninggal dari yang kecil. Ibu hamil, babies, muda, baya dan tua, bangka. Tak pandang usia. Tak pandang bulu. Tak pandang bangsa. Tak pandang warna. Tak pandang agama. Pangkat dan jabatan. Kaya dan miskin. Siapa nanya siapa menduga. Mereka pergi. Dalam sesaat tak lagi kembali. Sedang bercerita ria. Penuh cengkerama. Bermain pnuh lincah bersuka cita dipantai indah. Berlarian mengincar ikan ke tengah laut, sesaat air surut jauh kelautan. Surutnya air laut, ya nadzir. Bagi kita yang melihat rekaman, ya itu nadzir untuk diri. Banyak lagi gempa-gempa dan bencana banjir lainnya yang akan terjadi. Longsor. Tabrakan. Kehancuran. Yang paling hebat, tentu kiamat.

Demikianlah. “Kun”, kata Allah. Fa yakun Maka jadilah. Hancurkan. Ya hancur. Luluh lantakkan. Ya, bi idznillah.

Semuanya nadzir. Pertemuan. Pernikahan. Kehamilan. Teman-teman yang dulu ada, kini telah meninggalkan kita dan lain sebagainya. Itu nadzir. Yang muda jangan sombong menyebut: “Saya masih kekar, masih gagah, masih sehat”. “Gigi belum tanggal. Rambut masih hitam. Kalau dia penglihatannya sudah kabur. Makan sudah bubur; bahkan sudah ditakar. Tak lagi bisa makan ikan bakar”. Ya, nadzir sebetulnya sudah datang pada setiap diri yang mau menyadari keberadaannya harian. Simak lagi, Datang Tiada Penghalang. So, harian segera bangun subuh. Bersyukur. Sembahlah Allah saja . Bertebaranlah. Tanpa melupakan Nya. Diakhiri dengan datang malam. Berserah diri serta bersyukur setelah menyembah Nya. Hidup adalah dari waktu kewaktu penyembahan kepada Nya yang Maha Esa, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan Maha Agung. Semua menunggu; menunggu tetap penuh juang.

Yang tak menunggu berarti sudah selesai. Dimana? Ya, dimana sudah ada penyelesaian akhir. Selagi masih belum ada penyelesaian akhirnya, ya pasti menunggu harinya. Menunggu saatnya. Menunggu detik nya. Lho, dimana titik akhir tanpa menunggu. Ya, dihari pertanggungan jawab telah dilalui dan selesai penempatan nya. Itulah dia, di syorga. Tak ada hari menunggu lagi. Yang ada hari menikmati hasil amal baik, tiada limitasi.

Selagi belum ada tempat demikian itu, ya lalui menunggu hari bagi masing-masing diri.
Macam-macam yang muncul saat itu. Berdoalah pada Allah dengan berusaha selalu membuat yang baik – baik sesuai ketentuan Nya. Setidaknya jangan lakukan yang buruk sesuai larangan Nya.Cegah diri dari kejahatan bisikan setan terkutuk. Senyum saja, baik. Merupakan sedekah yang amat simple. Berpahala. Menambah amal. Memberatkan timbangan kanan. Berwajah cemberut. Jangan!Membuat beban. Berat itu. Rasul saw saja ditegur Allah.[Surah 80 ‘Abasa]

Dr.H.Subki Abdul Kadir memisalkan diri ini ibarat piring. Piring dipinjamkan pemiliknya kepada peminjam. Dipinjamkan, bersih. Piring dipakai. Ya, dipakai. Setelah dipinjam, wajib dikembalikan kepada pemilik.

Yang empunya, kalau kembaliannya: bersih; hatinya pasti senang. Mau dia meminjamkan kapan saja diperlukan lagi. Tetapi, dipinjamkan oleh pemilik bersih, kembalinya kotor. Jelas yang empunya kurang senang, walau tak marah. Piring-piring disiraminya air panas. Kalau pecah, ya ke tong sampah. Lanjut dibuang lagi ke TPA. So, tiga tempat kembalian. Nah, itu event di dunia. Langsung dimasukkan kedalam lemari piring nan indah; yang mahal beli dan rancak buatannya. Itu sorga piring. Sebaliknya, dicuci dulu dengan air panas; karena banyak minyaknya. Itu narakanya piring. Pecah saat dicuci, ya, dibuang saja ke tempat sampah. Diakhirat, mungkin sample pecah ini untuk karak naraka. Ia tidak akan muncul muncul lagi.

So, pinjam piring kembalikanlah dalam keadaan bersih supaya senang hati pemilik. Diri pinjamanan Allah swt. Berusaha untuk kembali dalam keadaan suci; setidaknya bersih. Berat timbangan kebaikan dari kotor.

Roh diri yang dari Allah kembalinya kepada Allah karena amal kebaikan; menjadi tentram.

Yaaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’iii ilaa rabbiki raadhiyatan mmardhiyyah. Fadkhuliy fiy ‘ibaadiy. Wad khuliy jannatiy. Hai jiwa yang tenang tenteram (bersih) Kembali lah kepada Tuhan mu dengan senang (radiah) dan tenang (di redhai Nya). Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba Ku. Dan masuklah kedalam sorga Ku [89:27-30].

Rabbanaa innaka man tudkhillin naara faqad akhzaytahuu, wa maa lizh zhaaalimiyna min anshaar.

Ya Rabbanaa. Siapa yang Engkau masukkan ke dalam naraka, sesungguhnya Engkau telah menghinanya. Dan tidak ada penolong bagi orang- orang yang aniaya [ 3 : 192 ]

Jadi, masing-masing diri sudah diingatkan : Alas tu birabbikum. Dan telah dijawab : Balaa syahidna. Lahir kedunia tetap suci. Diingatkan lagi dengan firman- firman Nya. So, diharapkan didunia, diri :

  1. diperintahi Nya yang baik supaya tetap mengerjakan yang baik untuk bersih.
    Faktanya ia mengamalkan yang baik-baik. Kembali diri kepada Nya. Ya suci. Tempatnya, ditempat yang suci. Tempat yang suci itu syorga. Hum fiihaa khaaliduun
  2. dilarang menyalahi ketentuanNya supaya aman, selamat. Nyatanya mengerjakan yang jelek-jelek juga. Sudah diberikan Pegangan: al-Quran dan Hadis. Tidak juga berusaha. Masih cuek saja. Masih lalai. Tentu hasil nya akan tetap jelek.
    Tempat yang jelek itu, di Neraka,bukan ?

Lagi, lagi mari sama disadari and dipikirkan isi surah al Fajr 23: wa jiiiy a yaw maidzin bi jahannam dan pada hari itu diperlihatkan naraka jahannam.

So, jangan terjadi sperti yang dibawah ini bagi diri !:

”Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (kedunia) agar kami beramal saleh. Benar-benar kami yakin [32 as Sajdah :12]”.

”Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku ber amal untuk hidupku ini [89 al Fajr : 24]”

Jadi dengan mawas diri dan melakukan yang baik-baik; sesuai perintah Nya, pasti hasilnya baik. Balasannya berlipat ganda. Berbuat baik berarti kita melakukan kebaikan. Dan kebaikan itu adalah, al birra, righteous.

Al birra itu pada mulanya berarti kebenaran yang melahirkan ketaatan. Abrar = benar. Dan itu adalah kebajikan yang sempurna. Di definisi kan lagi: albirra adalah himpunan segala nilai-nilai baik, inklusif nilai-nilai agung. Nilai-nilai luhur dan dari segala perbuatan yang baik-baik. Segala yang baik-baik dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yang didasari dengan iman dan taqwa.

Kebaikan itu ialah keimanan kepada

  1. Allah, [Allah itu satu; bukan lebih]
  2. hari akhirat, [setelah hari kematian. Hidup lagi. Kekal]
  3. para malaikat, [ada yang menjaga tingkah laku]
  4. kitab-kitab, [petunjuk yang Maha Benar]
  5. nabi-nabi [penyampai firman Allah]
  6. dan memberikan harta yang disukai kepada (6a) kaum kerabat, [yang dekat]; (6b) anak yatim, [anak tanpa ibu] ;(6c) orang-orang miskin, [minim biaya hidup]; (6d) musafir [pejalan yang tak punya bekal lagi]; (6e) orang yang meminta - minta, [no money; broke]
  7. memerdekakan hamba sahaya, [kini tak ada lagi]
  8. mendirikan salat, [amal wajib 5x sehari; pertama ditanyai nanti]
  9. membayar zakat, [taxable]
  10. menepati janji yang sudah dibuat, [wajib ditepati]
  11. sabar waktu mengalami, (11a) kesempitan, [kesusahan]; (11b) penderitaan dan [kesusahan kelaparan dan sebagainya]; (11c) dalam peperangan. [melawan musuh islam]

    Orang-orang demikian itulah yang benar dan merekalah yang bertaqwa [2 ::177]
    [2/177: Righteousness is not whether you turn your face towards East or West; but the righteousness is to believe in Allah, the Last Day, the Angels, the Books and the Prophets, and to spend wealth out of love for Him on relatives, orphans, helpless, needy travellers; those who ask for and on the redemption of captives; and to establish Salah (prayer), to pay Zakah (alms), to fulfil promises when made, to be steadfast in distress, in adversity; and at the time of the war. These people are the truthful and these are the pious].

Kemudian:

Diwajibkan atasmu, bila kamu kedatangan tanda-tanda maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapa dan karib kerabatnya secara ma’ruf. Ini kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa [ 2:180 ]
Karena setiap saat yang dilalui selalu ada nadzir yang menyadarkan, maka berdasarkan kutipan hadis sahih:

  1. berwasiatlah
  2. angsurlah memulangkan barang pinjaman
  3. bersegeralah minta maaf; diberi tak diberi minta maaflah
  4. maafkan kesalahan orang secara tulus hingga tak ingat lagi
  5. perbanyak minta ampun dari nan sudah; utama saat akan tidur dan pahami permohonan itu
  6. sering mengingat dosa nan lalu, hingga benar- benar takut akan azab Allah dan tak berbuat lagi
  7. angsur mengurangi aktivitas kehidupan dunia
  8. perbanyak aktivitas kematian eg. ziarah sisakit, melayat kematian, ziarah kubur
  9. buang angan-angan; bisa habiskan amal
  10. buang habis-habis segala panyakit hati
  11. tingkatkan amal akhirat
  12. tingkatkan zikir
  13. beribadah yang jelas-jelas saja.
  14. Jauhi bid‘ah

Ibnu Malik mengatakan bahwa dinegerinya orang- orang berilmu , mencari ilmu yang campur baur hanya sampai umur 40 tahun. Setelah itu mereka tak lagi mencari kehidupan dunia. Hanya fokus pada hari-hari kematian.

Namun fakta, bagi kehidupan dunia ini, umur 40 an keatas puncak karier yng diperebutkan. Malahan lupa caranya. Sampai lupa daratan jadinya. Main sikut bermunculan. Emosi berluapan. Segala cara dihalalkan. Namun, lupa, bahwa sedang atau setelah itu, kematian mengancam. Kematian diikuti kemurkaan Allah? Didunia menerima murkanya manusia.

“Kematian menjadikan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup. Sebuah resiko pasti dari hidup adalah mati. Ia menjadi bagian yang sering kali tak lagi diperhatikan, karena ia sudah menjadi lumrah. Media masa setiap hari mengabarkan kematian. Entah dengan cara bagaimana dan sebab apa. Nyatanya kematian menjadi sebuah kabar yang tak lagi membuat kita berduka atau berkabung. Ya, sebab kita begitu kebal karenanya”, tulis Sudarmoko dalam ‘Membaca Kematian dalam Sastra’ di Kompas 13 Maret 2005.

Memang ini yang sama kita lihat. Manusia hari ini merasa diri kebal, kebal segala. Kebal juga dari tuntutan korupsi? Kematian tak lagi di persiapkan. Allah terlalaikan. Terlalaikan dalam melakukan shalat. Menghamba kepada Nya. Bahkan ada yang melengahkan Nya . Melengahkan; tidak melakukan shalat. Meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, adalah perbuatan yang merupakan dosa besar. Disisi Allah, dosanya itu lebih besar dari merampas harta, bahkan dari membunuh. Ia akan dihinakan Allah swt. Kemudian ia berhadapan dengan kemurkaan Allah . Pada hal di KTP, Islam. Disebut tak Islam, pasti ia naik pitam. Membunuh ia pun mau, bukan? Bahkan mutilasi dapat terjadi akibat spele. “Sembahlah Aku”, firman Allah. Nyatanya? Nyatanya kekuatan setan besar, amat amat tinggi sekali mempengaruhi dirinya. Sedang agama adalah bagi orang yang berakal. Orang yang berakal yang mempunyai kesadaran terhadap yang haq. Setan berbangga hati melihat orang yang tak mau menyembah Allah. Ia tertawa terbahak-bahak. Kalau begitu, kontradiksi harus dilakukan bagi kebanggaan dan tawaan setan. Buatlah setan-setan keparat bersedih, menangis. Menangis. Setan pasti akan menangis melihat orang yang mau bersujud kepada Allah. Penuh khusuk melaksanakan shalat. Makin keras tangis setan. Bahkan setan menjadi histeris melihat: “Mereka bersujud kepada Allah. Syorga baginya. Aku menantangnya. Naraka bagiku”. So, bentengi diri dengan shalat. Wakmur ahlaka bish shalaati washthabir ‘alayhaa. Dan suruh keluargamu shalat dan tetaplah mendirikan shalat Enjoin Salah on your people and be diligent in its observance [Thaa Ha 132]. Shalat itu manis, diawali dengan keikhlasan dan diakhiri dengan ihsan. Pikiran jelas menjadi tenaaang.

Rahman Allah ada didunia. Rahim Nya hanya akan dilimpahkan Nya berupa ampunan dan Sorga yang telah dijanjikan Nya; bagi yang melakukan al birra. Rahman Allah untuk semua yang di dunia, bahkan dengan limpah ruahan yang tiada taranya. Namun bila tak diikuti shalat – bagian dari righteous [vide 2 : 177], maka tersembunyi Murka-Nya. Murka yang pasti dilaksanakanNya terhadap setan dan koroninya; yang menyanggah ketentuan-ketentuan Nya selama didunia. Semasa hidup.

Berbekal lah. Jangan tak dipersiapkan di dunia bekal untuk setelah kematian. Jangan diri melupakan bahwa hidup didunia ini dilalui cuma sementara. Kematian bukanlah akhir kehidupan. Ingatlah : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah faasiquun [59:19].

Lupa kepada Allah, lupa kepada diri sendiri. Moral hilang. Yang model beginilah yang membuat hidup menjadi seenaknya saat belakangan ini. Ia menjadi curanmor, perampas, pekosa, pembudur-budurkan pusar, pembakar orang, pemutilasi, pengantongi yang tak haq. Karenanya kembalilah kepada Allah. Marilah setan dibuat menangis. “Wa lakum fil ardhi Bagimu di bumi mustaqarrun tempat tinggal wwa mataa ‘un ilaa hiiyn dan kesenangan sementara waktu [7:24]”. Di bumi hidup ini pendek, ditentukan, sementara. Yang lama di hari tiada akhir, setelah dibumi. Setelah kematian. Semua kita mesti melalui kematian. Wajib. Semuanya dibawah tatanan Allah swt.

So: Kematian, sesungguhnya awal kehidupan tiap diri. Sebelum Datang Tanpa Penghalang, perbanyak sujud. A’inni ‘alaa nafsika bi katsratis sujuud. Tolonglah dirimu dengan memperbanyak sujud [HR.Muslim].

Allaahumma ahsin ‘aa qibatanaa fil umuuri kullihaa wa ajirnaa min khiz-yiddun-yaa wa ‘adzaabil aaakirah.
Yaa Allah, baikkanlah akhir segala urusan kami. Dan jauhkanlah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat.

Allaahumma inni as aluka iimaanan kaamilan wa yaqiinan shaadiqan wa risqan waasi’an wa qalban khaasi’an wa lisaanan dzaakiran wa halaalan thayyiban wa taubatan nashuuhan wa taubatan qablal maut wa rahaatan ‘indal maut wa maghfiratan wa rahmatan ba’dal maut wal afwa ‘indal hisaab wa lfauza bi ljannati wan najaata minan naari bi rahmatika yaa ‘aziizu ya ghaffaaru rabbi zidni ‘ilman wal hiqnii bi shshaalihiin.
Ya Allah. Aku memohon kepada Mu: iman yang sempurna, keyakinan yang mendalam, rezki yang lapang, halal lagi baik, hati yang khusuk, lidah yang berzikir dan tobat yang sungguh-sungguh, tobat sebelum mati, tenteram ketika mati, ampunan dan rahmat Mu setelah mati, ampunan ketika dihisab, meraih syorga dan terhindar dari naraka, dengan rahmat Mu, wahai Yang Maha Mulia, Maha Pengampun. Yaa Tuhanku, tambahilah ilmu pengetahuan ku dan masukkanlah aku kedalam golongan orang-orang yang saleh.

Ada hal yang sering orang terlupa atau tidak tahu kebesaran pahala yang diperolehnya. Padahal kerjanya mudah. Itulah sembahyang jenazah. Tanpa rukuuk. Tanpa sujud; hanya empat kali takbir. Modalnya : Kesediaan diri. Wuduk. Niat. Berdiri. Mengikuti imam dengan empat takbir. Salam. Ok, selesai. Pahala, tu. Mudahkan! Tetapi banyak orang yang tak melaksanakannya. Tak tahu? Bukan! Setan!

BACAAN SETELAH TIAP TAKBIR KE :
1. Fatihah. [Semua kita bisa]
2. Salawat atas Nabi. [Semua bisa]
3. Doa untuk yang dewasa [lupa???, OK:]
Minimal :
Allahummagh firlahu.
Warhamhu
Wa ‘afihi wa’fu’anhu
Wa akrim nuzulahu


Lengkapnya:
Allahummagh firlahu war hamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassii’ mad khalahu wa aghsilhu bimaaiw wa tsaljiw wa baradiw wa naqqihi minal khathaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadu minad danas wa abdilhu daaran khairanan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa adkhilhul jannah wa a’idz-hu min ‘adzaabin naar.
Ya Allah. Ampunilah dia. Kasihanilah dia. Maafkanlah dia. Sejahterakanlah dia. Muliakan lah tempatnya. Lapangkanlah kuburnya. Sucikanlah dia dengan air, salju dan embun. Sucikanlah ia dari kesalahannya, sebagaimana sucinya kain putih dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik. Gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik. Masukkanlah ia kedalam syorga. Jauhkanlah ia dari siksa kubur dan siksa naraka.

BACAAN BAGI ANAK KECIL:
Allahumma j ‘alhu lana
salafan
wa farathan
wa ajrann
Ya Allah jadikanlah dia bagi kami
Sebagai pendahuluan (penjemput)
Tabungan
Dan pahala

4. Doa :
Allahumma
laa tahrimnaa ajrahu
wa laa taftinnaa ba’dahu
wagh fir lanaa wa lahu

Ya Allah. Jangan tahan untuk kami pahalanya. Jangan tinggalkan fitnah setelah dia. Ampunilah kami dan dia.

Menurut Abu Hurairah ra. : Orang dahulu biasa membaca: “Rabbanaa aatina fiddun yaa hasanataw wa fil akhiraati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar” .Ya Allah. Berilah kami kebahagiaan didunia dan di akhirat Dan peliharalah kami dari azab api naraka.

Selesai membaca doa, imam mengucapkan salam. Makmum mengikuti pula salam : “Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh”. Inilah hablum minannas. Tidak sulit, bukan?

Jadi ada kesempatan shalat jenazah, beramai-ramailah melaksanakannya. Pahalanya satu qirath [sebesar bukit Uhud]. Mengiringi jenazah sampai selesai penyelenggaraannya, menjadi dua qirath.

Ibnu Umar : “Sesungguhnya selama ini kita telah mengabaikan pahala ber qirath-qirath; karena tak ikut salat jenazah”.

Sungguh, itu benar-benar terdapat peringatan bagi yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengaran, sedang ia menyaksikan [50:37]

Marilah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang mempunyai hati, menggunakan pendengaran, mematuhi Nya, karena kita mengimani dan menyaksikan bahwa yang benar itu benar adanya. Semua itu dibawah kuasa Nya. Dibawah pengaturan Nya. Dibawah pengawasan Nya. Dia lah Allah Tuhan Semesta Alam.

Rabbana. Berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk selalu menyembah Engkau, mematuhi ketentuan dan menjauhi larangan Engkau, supaya kami dapat terhindar dari ketidak mampuan untuk bersujud pada hari memuncaknya siksaan:
Yauma yuksyafu ‘an saaqin wa yud’awna ilas sujuudi fa laa yastathii’uun. . Khaasyi’atan abshaaru hum tarhaquhum dzillatun, wa qad kaanuu yad’awna ilassujuudi wa hum saalimuun*.

Di hari betis disingkapkan mereka dipanggil untuk bersujud, ternyata mereka tidak kuasa*. Pandangan mereka tunduk kebawah, diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru untuk bersujud saat mereka dalam sejahtera (hidup didunia dan mereka tolak) *
On the Day of Judgement when the dreadful events shall be unfolded, and they shall be asked to prostrate themselves, they shall not be able to do so* They shall stand with the eyes down cast, utterly humbled; because during their safe and sound earthly life they were called upon to prostrate themselves but they refused to do so*. [68 :42-43]
* Mereka berkesempatan saat salimun nya untuk melakukan sujud [shalat kepada Allah] saat didunia swt tetapi tak mereka indahkan.

Resiko tidak mengindahkan ketentuan Allah semuanya terekam. We are recording all that they are sending ahead and they are leaving behind. We have recorded everything in an open ledger* [ 36 : 12 ]

Recording book in an open ledger ini akan dilihat; karena diserahkan terbuka.
Then the book of their deed will be placed before them. At that time you will see the sinners in great terror because of what it is recorded therein. They will say: “Woe to us! What kind of a book is this? It leaves out nothing small or large; all is noted down!” They will find all that they did recorded therein. Your Rabb will not be unjust to anyone in the least [18: 49]

So masih ada waktu, sadari. Masih Merah si Ufuk Barat. Ada seruan muazin, Tinggalkan seruan lain. Kini tiba saatnya menyembah Allah. Saling mengingatkan. Seruan hiruk pikuk music, teve, hingar bingarnya dunia dalam mencari rezki stoplah sesaat. Bagi pencandu lomba pancing, yang sengaja telah meninggalkan kotanya sedari pagi dalam mencari ketenangan menuju kolam-kolam pancing di pedasaan yang tenang; yok tinggalkanlah pancing sesaat. Biarlah ikan istirahat pula sejenak utk tidak mengganggu umpan di pancing itu. Jangan salat sampai dilupakan pula. Toh selesai salat, batin menjadi tenang hati menjadi tenteram. Ya, we feel fresh n yea silakanlah pula berkarya kembali sesuai ketentuanNya penuh ceria.

050321


Tidak ada komentar: