Illustrasi
Ada event yang di dasar laut. Tanpa diketahui kedalamannya. Tanpa diketahui entah di laut mana tenggelamnya. Entah di rimba mana ia hilang. Entah tanah lambang mana yang akan menantinya Semuanya Dia yang maha menentukan. Seperti bagi seniman Huriah Adam, almh. Kok hilang tahu rimbanya. Kok tenggelam tahu lautannya. Cuma tak tahu kubur pastinya. Tak tahu kedalaman jenazah Huriah dan kawan-kawannya berada. Persisnya entah dimana.
Tapak demi tapak Huriah menuju ke Airport Kemayoran, Selasa 10 Nopember 1971. Di Bandara Kemayoran Huriah jumpa dengan teman yang hendak sama pulang ke Padang. Ia lain pesawat. Teman pulang bertiket Merpati. Huriah pulang bertiket Garuda. Namun Dia yang memutuskan. Huriah yang menentukan. Dia telah memutuskan. Itulah event di Bandara Kemayoran pagi itu. Tiket Garuda yang dalam tas Huriah dikeluarkan. Ia menukarnya dengan tiket Merpati. “Kok ditukar?”. “Ya, Yah nak cepat sampai….., uda”. Pesawat Merpati meninggalkan landasan pacu. Saat itu masih di Kemayoran. Pulau Jawa mulai ditinggalkan. Ujung Sumatera kini dilayangi. Bermacam gambaran ada dibenak masing-masing. Pilot and co – pilot tengah sibuk dengan tugasnya memberikan layanan kenyamanan kliennya. Tidak lama lagi sampai... Saatnya memang tak lama lagi sampai di Tabing. Nama Bandara Sumatera Barat saat itu. Namun Comulonimbus dengan sediaan Nya segera menghadang. Lalu menerjang, membeleng, menggulung pesawat penuh berawak. Pilot kehilangan pandangannya. Merpati diputar Nya arahnya; bukan arah ke landasan menuju Bandara Tabing. Arah landasannya kini lain. Ditukar Nya tujuan ke Lautan luas. Merpati dilayangkan Nya bebas, lepas, kelautan luas. Dihempas tenggelamkan ke lautan sana, dekat pulau Katang-katang di arah Barat daerah Painan. Merpati dihilangkan. Ditelankan kedasar lautan. Arus bawah Samudera Hindia yang deras memberikan dampak yang tiada tara bagi team SAR. Team SAR akhirnya pasrah, menyerah kalah. Satu pesawat sarat muatan, terdiri dari: pilot, co – pilot and stewardeses serta passangers yang didalamnya hilang ditanamkan ke lautan dalam. Huriah sampai. Sampainya ketitik destinasi. Masing-masing diri saat itu, ketika nyawa sampai di kerongkongan, masing diri melihat eventnya. Melihat sampai kedetik titik akhir hidup dunia yang dilaluinya. Huriah dipanggil Nya. Ia kembali kepada Nya. Innalillaahi ma akhaza. Milik Nya yang diambilnya. Dan satu benda bernama pesawat terbang Merpati milik maskapai Penerbangan, ada dibawah kuasa Nya. Tiada yang berkuasa selain Dia. Dia yang menempatkannya di dasar lautan Hindia bersama manusia yang dijadikan Nya. Tak ada tanda pasti di area mana pesawat dan semua jenazah manusia ditempatkan Nya.
Dalam sad event 10 Nopember itu, tiga pemegang tickets Merpati ada yang tidak ikut bersama ke dasar lautan. Orang pertama, yang menyerahkan tiket Merpati kepada Huriah. Ia menerima tukaran tiket Garuda. Dan pulang ke Padang dengan pesawat Garuda memakai ticket yang bertuliskan nama Mrs.Huriah Adam. Jakarta – Padang. Dia diselamatkan Nya sampai ke tempat yang dituju. Maaa ashaa ba mim mushiibatin illaaa bi idznillaah Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali izin Allah [65 : 11].
Orang kedua, benar-benar pemegang ticket Merpati. Hudan dari Yang Maha Kuasa. Kepulangannya lewat Bandara Tabing dengan penerbangan Merpati pada hari itu tidak jadi. Ia mengkenselnya. Pengganti dirinya, surat kilat khusus. Surat yang ditulis khusus untuk isteri tercinta. Dikirim secara khusus. Kilat Khusus. Dan Dia yang memutuskannya. Diputuskan Nya bahwa surat itu harus ikut berkubur dengan ribuan surat dalam post zags untuk arah Padang. Jelas, kilat khusus tidak akan pernah diterima addresser tercinta.
Orang ketiga, yang trauma untuk naik pesawat ia pulang dengan jalan darat kekampung halamannya. Demikian cerita opung
Subhanallaahi ‘amma yusyrikuun
Wa lahu ma a’thaitha. Kepunyaan Nya yang diberi Nya. Ia memberinya sampai limitasi nya. Bukan pada 10 Nopember 1971 itu.
Alhamdulillahi ‘adada ma khalaqa fis samawati. Ahamdulillahi ‘adada ma khalaqa fil ardhi.
Lagi lagi, kepunyaan Nya yang diberikan Nya Milik Nya yang diambil Nya
Ia, datang untuk semua. Tanpa pilih kasih
So, Siapkan diri
Nan jaleh
Mumbang jatuah
Kalapo no pun badambin
Dakek an bana-banaa diri slalu
ka nan Aso
Kok
Luko jaan manyiuak
Sainggo
kok tibo nan bak nantun
tibo mati ndak manyasa
Patunjuak Rasua paciak arek-arek
Nan Shalat jaan dilalaian
Lengonglah kepada events lain, datang tiada penghalang. Banyak yang terjadi dan akan terjadi diluar jangkauan nalar insan. Ambillah i’tibar semua kejadian itu.
Ada yang duduk lagi nyupir di perjalanan panjang. Tiba-tiba supir menghentikan jalan mobil tiba-tiba. Stir tetap dipegang. Mesin masih hidup “Lho. Kenapa kok tiba-tiba berhenti, pir?”. “Ada yang mau naik, Bu!”. “Mana orangnya?” “Kami tidak melihatnya!” “Itu dia, Bu. Ia ingin bersama kita!”.“Demi Allah kami tidak melihatnya”. Tiba-tiba kepala sopir, tertekur ke stir nya. Diam penuh ketenangan. Tenang damai dia untuk selama-lamanya. Innaalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Seorang pilot yang sedang menerbangkan pesawat dengan ketinggian sekian ribu kaki dari bumi, event model ini pun terjadi. Ia datang. Tiada penghalangnya. Tiada penahan. Mesti patuh. La hawla walaqu wata illa billah
Bila ajal datang waktunya, mereka tidak kan dapat mengundurkannya walau sesaat pun. Tidak pula memajukannya [ 7 A’raf 34]
Ada yang terjungkal dari mobil, saat peti mati dibawa untuk prosesi penguburan jenazah yang sedang menunggu dirumah duka.
Truck terbuka membawa peti mati. Di dalam peti ada kain. Tanpa setahu supir, seorang nyebeng aaje dibelakangnya. Diperjalanan turun hujan. Guna menghindari kuyupan hujan, singebeng masuk peti. Tiada lama, seizin sopir, menompanglah seorang yang kehujanan. Ia naik di belakang. Truk melaju. Tiba-tiba, yang dalam peti mati menjulurkan tangannya keluar peti, berbungkus kain putih pembungkusnya. Ia ingin tahu, masih hujan kah atau tidak. Penompang yang baru naik terkejut. Disangka mayat hidup, menjulurkan tangannya. Keterambungannya akibat ia terkejut, membuatnya terjungkal. Terhempas ke asphal beton. Mati? Yaa! Ia mati seketika.
Segala sesuatu sesuai dengan qadha’ dan qadarnya. Kematian itu adalah sebaik-baik pelajaran bagi diri yang belum mati.
Jadi setiap saat kematian mendekat. Dunia makin ditinggalkan. Sampai, Datang Tiada Penghalang.
Siaplah jadi anak-anak akhirat. Hari ini beramal, tak ada hari berhisab. Esok dihisab, tak lagi ada untuk beramal. Ada hanya amal. Amal yang menemani diri ini. Amal nanti yang akan berbicara.
Seorang yang berdosa tak akan memikul dosa orang lain [53 an Najm 38]. Manusia hanya memperoleh dari amal yang dilakukannya [-:39]. Usaha itu akan diperlihatkan kepadanya [-:40]. Akan diberikan balasan cukup kepadanya [-:41] Kepada Tuhan engkaulah akhir segala sesuatu kelak [-:42]. Dia yang menjadikan orang tertawa atau meneteskan air mata [53: 43].
Setiap diri akan dimintai pertanggungan jawab; walau sebesar zarah pun [ ]. Tsumma latus alunna yauma idzin ‘anin na’im (a) Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan ketika didunia) on that Day you shall be questioned about the blessing (facilities and resources that you were given in the worldly life – as to how you use them ?) [102 At Takaatsur : 8]. Fa may ya’mal mits qaala dzarratin khairay yarah (u) Maka siapa yang mengerjakan kebaikan seberat Zarahpun, pasti akan melihat (balasan) nya Then, whoever has done an atom’s weight of good shall see it there [99:7]. Wa may ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah (u) Dan yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, pasti akan melihat pula (balasan) and whoever has done an atom’s weight of evil shall see it there [Az zilzal : 8]
No bearer of a burden will bear another’s burden Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. And if a heavy laden person cries out for help, none will come forward to share the least of his burden, eventhough he be a close relative Dan jika seorang yang berat dosanya, memanggil (lainnya) untuk memikul dosanya, tidaklah akan dipikul sedikitpun, meskipun ia kerabatnya [35 Faathir:18 ]
Hanya yang melakukan yang bicara . Amal yang bicara. Saat itu tidak berlaku pribahasa: Tangan mencencang bahu memikul. Pupuslah ia. Saat itu : Tangan mencencang, ya tangan yang bertanggung jawab. Bahu memikul, ya, bahulah yang bertanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar